Sampai Jumpa Shikoku. (Shikoku Cycling Trip #6. Habis)

Sambungan dari Shikoku Cycling Trip #5.

Pagi itu di Ehime adalah pagi terberat untuk beranjak dari tempat tidur, badan mulai terasa pegal di bagian betis dan paha, saya sampai tidak sempat untuk mengamati kondisi pagi hari di Kota Ehime. Hari ini kami akan mengunjungi beberapa destinasi di Ehime sebelum menuju ke Haneda Airport untuk penerbangan kembali ke negara masing masing. Setelah sarapan dan mengemas semua barang bawaan kami kami pun beranjak meninggalkan hotel di Matsuyama menuju destinasi pertama kami yang berada di Imabari.


Kurushima Strait Observatory, Adalah lokasi dimana kita bisa melihat pemandangan teluk Kurushima dengan megahnya jembatan Shimanami yang menghubungkan di Imabari,Ehime, dan berakhir di Onomichi, Hiroshima dengan melewati kepulauan Geiyo seperti Oshima, Hakata, Omishima, Ikuchi,Innoshima, dan Mukaishima.


Dilokasi ini juga terdapat toko yang menjual souvenir lokal Kota Imabari, seperti olahan Mikan dan handuk khas Imabari. Benar, selain Mikan (jeruk) Imabari adalah kota penghasil Handuk dengan kualitas tinggi yang terkenal sebagai handuk mewah di Jepang, Bahkan hotel hotel bintang lima di beberapa negara menawarkan Handuk Imabari untuk tamu mereka.


Shimanami juga merupakan rute sepeda terkenal di Jepang, Bahkan rute ini pernah diulas dalam buku terbitan Lonely Planet yang berjudul “Epic Bike Rides of the World”, dimana buku ini menceritakan bagai mana mereka bersepeda dan apa yang mereka temui selama bersepada melewati kepulauan di laut Seto. Saya berharap suatu saat saya memiliki kesempatan untuk menjajal rute tersebut.


Setelah menikmati jus Mikan dan menikmati pemandangan di Kurushima Strait Observatory, kami pun beranjak menuju Dogo Onsen yang terletak di Kota Matsuyama. Onsen atau pemandian air panas alami merupakan budaya orang Jepang sejak jaman Kuno karena Jepang memiliki banyak sekali sumber air panas. Dan mereka telah memelihara budaya tersebut sejak lama karena pemberian alam membuat mereka bisa menikmari efek relaksasi, penyembuhan pada tubuh dan
pikiran. Dogo Onsen terletak di tengah pusat kota Matsuyama yang ramai dikunjungi wisatawan karena Dogo merupakan Onsen tertua di Jepang dan Mizuno bercerita kalau Dogo Onsen sudah berumur sekitar 3000 tahun. Dan Dogo onsen juga merupakan salah satu inspirasi Hayao Miyazaki untuk mewujudkan Onsen Yubaban dalam film animasinya yang berjudul “Spirited Away”.Areal Dogo onsen banyak terdapat penginapan bergaya Jepang (Ryokan) dan pusat perbelanjaan oleh oleh untuk para wisatawan.


Setelah waktu yang singkat untuk membeli oleh2 kami pun mencoba untuk mencoba sumber air panas di daerah Dogo. Ini adalah kali pertama saya mencoba Onsen di Jepang, ternyata adal beberapa peraturan yang harus ditaati selama ada di dalam Onsen, seperti Cuci atau mandi sebelum memasuki Onsen, Untuk masuk kedalam Onsen kita harus benar benar telanjang, Pengunjung bertato dilarang memasuki Onsen, Handuk besar hanya untuk mengeringkan badan dan harus ditinggal di kamar ganti, handuk kecil bisa dibawa kedalam Onsen namun tidak boleh di tenggelamkan ke dalam bak air, kebanyakan handuk kecil diletakkan di kepala ketika berendam. Kepala harus tetap di atas permukaan air. Untunglah beberapa teman sudah pernah mengunjungi Onsen sebelumnya, jadi saya hanya mengikuti apa yang mereka lakukan.


Setelah beberapa menit berendam di Onsen, badan terasa lemas dan ngantuk, namun pegal di badan lumayan berkurang. Nikmat rasanya melepaskan rasa lelah dan pegal badan dengan berendam di Onsen. Kami pun bergegas menuju Matsuyama Airport untuk penerbangan domestik menuju Haneda. Butuh waktu sedikit lama untuk check-in karena mereka harus memastikan barang-barang bawan dan case sepeda kami yang super besar aman dari barang barang yang bisa membahayakan penerbangan.


Sesampai di Haneda kami menyempatkan untuk makan malam bersama kami yang terakhir, hingga sampai tiba saya harus berpisah dengan yang lain. Sampai jumpa host kami Miku dan Emi, sampai jumpa Ken, Shelly, Chai, dan Wu. Petualangan epic yang tak terlupakan selama beberapa hari ini di Shikoku, semoga kita bertemu kembali di petualangan yang lain. Saya pun menuju ke gerbang keberangkatan yang ditentukan dan menempuh penerbangan kembali ke Indonesia.


Sesampai di rumah saya membuka bungkusan kecil yang Miku berikan kepada kami berada di Matsuyama Airport. salah satu benda yang ada dalam bungkusan tersebut membuat saya penasaran, semacam gantungan kunci dengan logo Jepang yang saya tidak mengerti maksudnya, di dalam bungkus gantungan kunci itu hanya ada tulisan yang bisa saya mengerti yaitu “Amulet for bicycle”, dan di bagian belakang bungkus terdapat banyak tulisan kanji dan sepuah gambar pulau dikelilingi kapal yang sama sekali tidak saya mengerti. Saya pun mencoba untuk mencari tahu maksud simbol yang ada pada gantungan kunci tersebut. Memulai browsing literatur dari Shikoku, masing masing prefecture hingga fokus ke Ehime, dan saya menemukan sebuah literatur tentang bajak laut terkenal di kawasan Ehime yang bernama “Murakami Kaizoku” dan saya bisa memastikan kalau pada amulet tersebut adalah simbol “Murakami Kaizoku”. Namun saya menjadi lebih penasaran, apa hubungannya bajak laut dengan bersepeda?


Sumber: https://nexttrip.info/article/737/

Setelah beberapa waktu membaca berbagai literatur akhirnya saya bisa menyimpulkan seperti berikut, Murakami Kaizoku terkenal sebagai kelompok bajak laut terbesar pada abad ke 16, mereka terkenal sebagai bajak laut yang lebih mengutamakan menjaga laut daripada menjarah dan merampok. Wilayah Murakami Kaizoku adalah kepulauan Geiyo yang terletak di perairan Seto, Termasuk wilayah Imabari hingga Onomichi. Perairan wilayah tersebut dibentengi olah kelompok Murakami, sehingga kelompok Murakami adalah Bajak laut yang berjasa atas keamanan wilayah tersebut. Rute Bersepeda Shimanami yang terkenal itu memiliki rute dengan titik dari Imabari hingga Onomichi dan juga melewati kepulauan Geiyo yang juga terletak di perairan Seto. Itulah sebabnya mengapa amulet tersebut memiliki simbol Murakami, amulet tersebut ditujukan kepada para pesepeda yang akan melintasi rute Shimanami agar memiliki semangat dan keberanian itu layaknya semangat Murakami Kaizoku di masanya. 

Mungkin bisa lebih banyak lagi yang bisa saya eksplor selama trip di Shikoku,
Terimakasih Shikoku untuk makanan khas nya yang unik di setiap daerah, keramah tamahan dan kesopanan , sajian akan pemandangan yang bervariatif selama bersepeda dan juga temen teman baik baru. 
Arigatou Gozaimasu.

Tulisan & Foto: Handa

Related

story 5432596990431476490

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item