Minggu Pagi di Bedengan.

Minggu, 23 Feb 2020.

Rute ke Bedengan identik dengan sungai dan jeruk. Rute ini sudah sangat familiar bagi pesepeda kota Malang dan kota Batu karena lingkungannya yang segar alami. Lokasinya ada di ujung Desa Wisata Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Pepohonan pinus dan aliran sungai yang jernih merupakan data tarik utama tempat ini sehingga cocok digunakan untuk berkemah. Selain itu aksesnya juga mudah, bisa dicapai hampir semua jenis sepeda. Untuk menuju ke sana terlebih dulu harus menanjak sekitar 15 km dengan elevasi 750 m jika dikayuh dari Malang. Jika sudah melintasi hamparan kebun jeruk, itu adalah pertanda lokasi Bedengan sudah dekat. Kali ini kami berempat menggunakan 2 jenis sepeda, MTB dan gravel bike.


Dari total perjalanan mungkin 90%nya adalah tanjakan beraspal dengan level moderate atau sedang. Kriteria moderate ini saya mengacu dari Strava karena definisinya yang lucu dan unik tapi masuk akal, yaitu ketika kita masih bisa mengayuh sepeda sambil mengobrol namun hanya mampu mengucapkan tidak lebih dari satu dua patah kata, haha. Tak ada single trail maupun tikungan yang meliuk-liuk. Pilhan menggunakan sepeda gravel di sini terbukti menguntungkan karena mereka (Dony & Handa) tiba di lokasi lebih awal tanpa harus mengeluarkan banyak effort. Sementara saya dan Indra yang menggunakan MTB harus sedikit lebih berkeringat.

Tanjakan menuju Bedengan.
Menggunakan gravel bike terasa lebih nyaman untuk rute ini. Di sini Dony menggunakan Polygon BenRV.
Satu-satunya supporter yang memberi semangat di tepi jalan.
Berhenti sejenak di pertengahan. Hari itu kami menjumpai terob warga yang melangsungkan pesta pernikahan sebanyak 3 kali yang semuanya menghalangi jalan.
Menuliskan penunjuk arah dengan cara dicat di aspal ini termasuk ide bagus, karena melihat panjangnya tanjakan hampir dipastikan pesepeda akan melintas dengan posisi kepala menunduk.

Kami tiba di Bedengan setelah mengayuh sekitar 1 jam dan langsung menuju salah satu warung yang ada di sana untuk memesan makanan dan tidak lupa segelas jeruk peras murni hasil kebun warga.
Yang unik di sini, teman kami yang baru saja menjalani trip Shikoku 4 bulan yang lalu, Handa, ternyata masih terbayang serunya bersepeda di sana. Hanya 6 hari berbaur dengan tradisi dan budaya yang ada di Jepang sudah cukup untuk membuatnya jatuh cinta. Ini terlihat ketika dia memesan seporsi Pop Mie panas yang dihidangkan dengan sebutir telur yang dicelupkan dalam keadaan mentah lalu diaduk dan disantap langsung. Menu ini sepertinya akan lebih pas andai saja kami tadi mengambil rute ke Gua Jepang, hehe.. 

Jeruk peras. Minuman yang wajib dipesan jika kesini.
Pop mie dengan tambahan telur mentah yang dicemplungkan lalu diaduk. Berminat mencoba?
Kami tertahan sejenak di warung itu karena hujan sempat turun sebelum kami menyempatkan berfoto di sekitar sungai. Setelah itu kami meluncur pulang. Saat itulah ban sepeda milik Dony bocor di tengah jalan namun kami bisa menggantinya dengan cepat menggunakan ban cadangan.


Ban yang sempat bocor ketika dalam perjalanan pulang.


Tulisan: Andy
Foto: Handa, Andy

Related

trails 6979571005840605559

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item