Launching Jersey 2020 Komunitas Ratjoen Cycling Club.


Inilah kegiatan yang masih segar di ingatan dan menurut saya cukup heboh karena sempat bikin jalur Malang - Batu menjadi ramai dan macet. Yap! Launching jersey edisi 2020 dari komunitas Ratjoen Cycling Club (RCC).

Ride with us!!

Sebenarnya sih launching jersey bagi anak-anak RCC adalah kegiatan yang hampir biasa-biasa saja. Kenapa? Karena memang setiap tahun selalu ada jersey baru yang dirilis, jersey tahun 2020 ini merupakan jersey tahun ke enam bagi RCC. Yang membuat istimewa adalah ceremonial bersepeda bersama bagi seluruh anggota di hari peluncuran jersey yang baru. Bersepeda bersama ini sekaligus merupakan sambutan selamat datang bagi anggota2 yang baru bergabung.
Slogan yang di usung kali ini adalah "Ride With Us!" 
Bisa jadi slogan sederhana ini diambil karena seiring berjalannya tahun jumlah anggota RCC yang  mendaftar di setiap acara launching jersey selalu bertambah dengan signifikan. Tahun ini buktinya. Saat pendaftaran  bagi anggota baru dan daftar ulang bagi anggota lama dibuka, jumlah pendaftar sudah mencapai 350 orang lebih, meningkat dari tahun sebelumnya yg hanya 200an anggota. Sebuah angka yang tidak sedikit untuk penghobi sepeda balap atau roadbike di kota Malang.
Slogan ride with us mengekspresikan semangat kebersamaan, dan keberagaman dalam satu minat dan hobi untuk mencapai satu tujuan yaitu sehat. Apakah sehat saja? Tentu saja tidak, karena bergabung di komunitas ini artinya bertambah pula keluarga, sahabat dan pastinya pengetahuan kita akan teknik bersepeda yang baik dan benar.
Di event kali ini saya kebetulan diminta membantu untuk mendokumentasikan acara mengingat jumlah peserta yangberjumlah lebih dari 350 orang, jumlah sebanyak ini tidak bisa dihandle oleh 1 atau 2 orang tukang foto saja. Apalagi  untuk tugas ini ketua panitia Edward Stanley yang akrab dipanggil Tenny menunjuk saya secara langsung. Tentu saja saya tidak berani untuk menolak, wkwkwk.. 
1 Februari 2020 jam 21.30 sebelum beranjak tidur, alarm di hp segera saya setel pukul 04.30 mengingat start mengayuh dimulai pukul 06.00 tepat di keesokan harinya.
Sesuai rencana, hari Minggu tanggal 2 Februari 2020 pukul 05.30 saya sudah on the spot di kantor utama Bank Mandiri jalan Merdeka Barat kota Malang yang ternyata sudah penuh sesak oleh peserta gowes. Di baris depan nampak  jagoan-jagoan nanjak dari komunitas ini. Ada Aswin Setiabudi, Victor, Daniel Bombom dan Hendry Jrink. Segera saya keluarkan kamera dari tas dan bersiap membidik momen saat jagoan-jagoan ini berbincang sambil tertawa tawa.. "nngggg..nnggggg.. nnggggg.. begitu suara yg keluar dari kamera saya, seketika saya kecut.. "ah, harusnya saya pinjam kamera yang lebih canggih dan baru, bukannya malah mengandalkan kamera jadul yang notabene bukan untuk kegiatan liputan olahraga". Ya, suara itu adalah suara lensa yang bergerak maju mundur mencari focus yang tak kunjung ketemu. Terbayang sudah akan sulitnya mendapatkan momen yang oke selama kegiatan ini berlangsung dan betapa beratnya perjuangan untuk mendapatkan jumlah file yang cukup guna diserahkan ke panitia.
Tapi apapun masalahnya, show must go on, maju terus pantang mundur!
Ketua RCC, Pudjianto Oetoro.
Setelah mendapatkan foto sambutan dari ketua RCC, Pudjianto Oentoro dan beberapa jepretan lain, segera saya meluncur ke spot yang menurut saya sangat oke untuk mengambil gambar: Jembatan penyebrangan di depan kantor Telkom Kayutangan. Di perjalanan tepatnya di daerah talun di samping Gereja Pantekosta saya melihat Donny Hary Putra, senior street fotografi kota Malang yang juga member dari RCC bersiap mengambil gambar rombongan pesepeda yg hendak melintas. Sesampai di jembatan penyeberangan depan Telkom ternyata sudah bersiap juga anggota RCC yg lain yg juga seorang fotografer profesional di kota Malang; Rikky Cizat dengan kamera besar dan lensa panjang berkelir hitam putih. "Wis budal tah uwong2 sing sepedaan?" Tanyanya, "Paling limang menit maneh" jawab saya sambil memberi tanda tabik lima jari. 
Setelah sama2 mendapat posisi terbaik, suara rotator patwal mulai terdengar di kejauhan dan ratusan pesepeda berjersey merah cerah  pun berarak arak meluncur dari arah selatan. "Cekrek..cekrek.." huuuuft, untunglah meski focus lambat, gambar yg lumayan baik masih bisa didapat. Saat menyaksikan ratusan pesepeda dengan berbagai perbedaan tapi bersatu di komunitas ini, entah kenapa tiba-tiba ada perasaan yg sulit diungkapkan menyeruak dari dalam dada. Ada haru, bahagia sekaligus takjub melihatnya. 

Melintas di depan Gereja Kayutangan.

Setelah rombongan berlalu, segera kami turun dari jembatan.
"Kik, awakmu njupuk o frame ndek fly over arjosari tekan jembatan penyebrangan nduwure patung Kendedes, aku tak langsung nang daerah krematorium standby ndek kono". Mungkin melihat saya berkendara vespa, Rikky berpikir akan lebih lincah dalam mengejar rombongan di spot2 terdekat, sedangkan dia sendiri yang mengendarai mobil lebih aman kalau bersiap di spot terjauh. "Siap!!" Segara saya starter mesin dan meluncur ke fly over Arjosari. Tapi lagi lagi saya harus menepuk jidat.. ternyata bayangan saya utk bisa mengejar rombongan cyclist dgn mudah tidak terwujud. Vespa yg bermesin 150 cc ini tidak cukup cepat utk mengejar rombongan cyclist. Ya, kecepatan pesepeda Ratjoen yg luar biasa ditambah akses bebas hambatan karena adanya patwal membuat saya keteteran mengejar mereka. Alhasil saat vespa sampai di fly over Arjosari, setengah dari rombongan sudah melintas, momen yg oke utk dijepret lewatlah sudah.

Kejadian ini membuat saya berkesimpulan bahwa tidak mungkin bisa seenak hati saya berhenti untuk mengambil foto utk kemudian meluncur menuju spot yg lain lagi. Kecepatan kayuh orang2 ini luar biasa. Maka saya harus menentukan spot teraman dan terbaik utk mengambil foto. Maksud teraman disini adalah spot yg memiliki jarak cukup jauh dengan patwal, sehingga saya bisa mencari angle juga menyiapkan kamera (mengingat lambatnya focus kamera yg saya gunakan) serta memarkir kendaraan dengan aman.  
Saat melihat rombongan pesepeda berada di depan pabrik rokok Bentoel di Karanglo maka spot yg paling memungkinkan dan paling aman adalah ujung jembatan Pendem. Segera saya menuju kesana dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya disana ternyata telah bersiap Darius, fotografer resmi dari Ratjoen. "Haus tah kak, ini lho kopi botol mmmm cafe", sapanya sambil menyodorkan sebotol ice latte dingin dari salah satu sponsor acara yg segera saya sambar dan teguk hingga menyisakan seperempat botol saja. Setelah itu saya menyiapkan kamera dan menentukan ruang bidik yg nyaman.
Tak berselang lama rombongan cyclist terlihat di kejauhan. Meski tak banyak foto yang bisa diambil, saya cukup leluasa mengambil beberapa gambar rombongan cyclist yg melintas di jalur ini.
Rute yg dipilih tahun ini memang lebih pendek dibanding tahun-tahun sebelumnya, hanya di angka 40 kilometeran saja, dengan elevation gain 600 meteran.
Mengambil start di kantor Bank Mandiri di daerah alun2 kota Malang dan finish di Predator Fun Park di kota Batu memang terkesan pendek, tapi peserta dijamin tidak akan kecewa karena selain jalur yg dilewati adalah jalur tanjakan landai dengan pemandangan yang tidak membosankan, rute yang dilewati juga penuh dengan tantangan dan kejutan. salah satu kejutannya adalah dipilihnya jalur Jeding di daerah Junrejo Batu sebagai jalan pintas menuju titik berikutnya yaitu Museum Angkut. Bagi cyclist luar kota istilah "jalan pintas" atau shortcut adalah sesuatu yang menyenangkan apalagi setelah dihajar rute landai non stop di kecepatan stabil 20 - 35 km per jam.
Tapi wajah sumringah itu kontan berubah kecut dengan dihiasi umpatan setelah melihat jalan pintas dengan grade tanjakan yg mencapai 14%. "Bedes, trabasan e kudu penekan tibake!" (Monyet, jalan pintasnya harus mendaki ternyata) wkwkwkwk.. banyak cyclist yang notabene berasal dari luar kota mengumpat sambil tertawa. Di segmen ini pula banyak cyclist yang berhenti sejenak atau bahkan mengangkat bendera putih tanda menyerah.

Yang membuat salut sekaligus heran adalah saat melihat pesepeda2 wanita yang tetap stabil berada di peleton depan meski tanjakan terjal menghadang. Ada Stevani dan Claudya yang mengayuh santai sambil berbincang bincang, mengikuti dibelakangnya Like, Dr Chatty, bu Kom dan pesepeda2 wanita lainnya. 
Di akhir rute masih ada kejutan lainnya yaitu lomba mini KOM (King of Mountain) dengan ragam hadiah yg menarik.
Lomba menanjak menuju Hotel Amarta Hills yang mempunyai grade tanjakan 18% ini dimenangkan oleh Barley Octavian, pembalap muda asuhan Daniel Bombom. Setelah lomba mini KOM peserta langsung meluncur turun melewati daerah Tlekung untuk menuju pemberhentian akhir yaitu Predator Park sekaligus merayakan puncak acara dan beramah tamah.
Barley Octavian. Pemenang lomba KOM (King of Mountain). Dokumentasi: Dony Hary Putra.

Ketua penyelenggara, Edward Stanley mengakui antusiasme anggota (baik baru ataupun lama) makin tahun memang makin menggila setiap menyambut ceremonial launching jersey. Keberhasilan RCC mengemas acara di tahun-tahun sebelumnya ditambah profesionalnya komunitas ini menjadikan magnet yang kuat bagi sponsor-sponsor besar untuk mensupport komunitas ini. Tahun ini Ratjoen didukung penuh oleh Trek, Bank Mandiri, Predator Park, Museum Angkut, lampu Luxco, toko sepeda Rukun Makmur, dealer Honda Mandalasena, the Reborn cafe, Peloton & co, genset TCA dan masih banyak lagi. Sedangkan pembuatan jersey itu sendiri dipercayakan kepada SUB jersey yg sudah terbukti mampu menghasilkan produk jersey berkualitas tinggi.
Edward Stanley (kiri), ketua penyelenggara kegiatan ini.
Beberapa hari setelah acara saya bertemu pak Irawan Djakaria yang akrab dipanggil Pak Kom selaku pembina dari komunitas ini. Saya bertemu bukan karena tidak sengaja tapi pak Kom sudah menagih file foto dari kamera saya. Membaca WA nya langsung bikin saya gusar dan deg-degan, gimana ngga deg-degan, pak Kom ini selain sebagai pembina  RCC juga seorang fotografer dengan kualitas yang baik. Entah apa komentarnya melihat minimnya jumlah jepretan dan banyaknya momen yg terlewat. Ah, tapi untuk apa saya mesti deg deg an? Toh, datang sambil membawakannya oleh-oleh nasi dengan kuah rawon dan lauk ikan pindang yg digoreng sudah bikin beliau sumringah.




Foto & Tulisan: Oky Wisnugroho (Ovum).

Related

story 5613482042602957821

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item