Bagian Terbaik Selama di Shikoku. (Shikoku Cycling Trip #5)

(Sambungan dari Shikoku Cycling Trip #4)
Kabut tebal menyelimuti kota Shimanto pagi itu. Udara yang dingin dan badan yang mulai lelah membuat badan terasa malas untuk beranjak dari tempat tidur, tetapi semangat dan rasa penasaran untuk melanjutkan perjalanan masih tetap terjaga. Saya pun bergegas untuk bersiap, sarapan dan berkumpul di lobby hotel dengan peserta yang lain untuk melanjutkan perjalanan. 

Kami pun berangkat menuju Kota Uwajima yang berada di Ehime Prefecture. Destinasi pertama hari ini adalah Uwajima Castle, Kastil Uwajima adalah satu dari dua belas kastil asli yang masih bertahan utuh dari Jaman Edo. Kastil kecil ini berdiri kokoh di atas sebuah bukit. Bukit yang konon dulunya berbentuk pentagonal dan dikelilingi lautan sebagai pertahanan terhadap serangan musuh.
Namun pemerintah sudah mereklamasi daerah tersebut dan merawat baik kondisi Kastil tersebut.
Untuk menuju kastil dibutuhkan waktu sekitar 10 menit mendaki bukit dengan melintasi jalan dan tangga batu yang berlumut, terkesan lokasi ini benar benar peninggalan sejarah yang cukup tua.
Kastil Umajima yang tampak kokoh menyambut kami ketika sampai di atas bukit. Saya terkagum dengan kondisi Kastil ini yang masih bertahan setelah lebih dari 400 tahun. Walaupun sempat mengalami perbaikan namun Kastil ini masih dalam bentuk aslinya.
Bagian Dalam kastil ini hampir semua bagian terbuat dari kayu yang sudah berwarna usang karena termakan usia, namun masih kokoh dan utuh. Bagian dalam kastil kita bisa melihat beberapa baju besi, pedang dan beberapa hal lain milik penguasa feodal masa kastil ini masih aktif.

Kastil ini memiliki 3 lantai dan dari lantai tertinggi kita bisa meliat pemandangan kota dari berbagai sisi. Saya merasa beruntung sekali bisa mengunjungi satu dari 12 kastil yang masih bertahan dan utuh di Jepang. Setelah beberapa saat menikmati sajian sejarah di Ehime kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya. 

Destinasi kami selanjutnya adalah Kadoya Sea Bream Pot, yaitu hidangan ikan “Tai” atau “Madai”, sampai sekarang saya masih belum tahu, di Indonesia orang menyebut ikan ini dengan sebutan apa, atau bahkan mungkin ikan ini tidak ada di perairan Indonesia. Ehime merupakan penghasil Madai terbesar di Jepang sejak tahun 1990, karena itulah Sea Bream Pot menjadi makanan yang populer di kota ini. Sangat mudah untuk menemukan lokasi Kadoya Sea Bream Pot karena terletak tidak jauh di daerah stasiun JR Uwajima.
Yang menjadikan makanan ini begitu unik adalah cara penyajiannya, bahkan ada panduan untuk mengolah makanan tersebut. Hidangan Sea Bream Pot terdiri atas Madai Fillet, Telur Mentah, Kaldu, Rumput Laut dan Daun Perilla. Pertama tama aduk kaldu dengan telur mentah sebagai kuah, lalu masukkan Madai Fillet rumput laut dan daun perilla kedalam campuran telur dan kaldu, kemudian ambil beberapa sendok Mandai Fillet yang sudah tercampur di kaldu ke atas nasi panas, tuangkan kaldu ke dalam nasi panas sesuai selera. Saya tidak pernah terbayangkan cara penyajian seperti ini, Ikan Madai sejenak terasa seperti ikan Kakap Merah namun dengan aroma yang lebih ringan dan daging yang lebih lembut, dipadu dengan kaldu bercampur dengan telur mentah benar benar sangat memanjakan lidah. 
Setiap hari saya menikmati hidangan Ikan khas Jepang selalu ada yang beda di setiap lokasi, dan saya sangat puas dengan hidangan hari ini.
(Doc: Chai)
Setelah terpuaskan dengan hidangan Kadoya dan kami bersiap untuk melintasi rute terakhir kami di Ehime Prefecture, yang juga merupakan rute penutup kami selama beberapa hari di Shikoku. Kami bersiap dan memulai awal rute kami di halaman luar Stasiun JR Uwajima, siang itu langit sangat cerah, cepat sekali cuaca berubah di daerah sini , mengingat kabut dan cuaca mendung ketika kami berangkat dari hotel kami di Shimanto. Langit cerah dengan langit biru tetapi suhu udara tidak sepanas yang dibayangkan, sekitar 20 derajat celcius di siang hari. Itulah mengapa bersepeda disini sangat menyenangkan, tidak khawatir kepanasan walaupun bersepeda di siang hari.

Dari awal rute kami di Uwajima menuju Seiyo jalanan relatif landai di awal perjalanan dan tanjakan yang lumayan ketika sampai di Seiyo. sepanjang perjalanan sajian pemandangan diawali dengan suasana kota Uwajima dan berujung perbukitan dengan perkebunan jeruk di sepanjang jalan. Ehime juga terkenal akan penghasil jeruk di Jepang. Mereka menyebut jeruk Ehime dengan sebutan Mikan, hingga maskot kebanggaan Ehime juga berbentuk jeruk. Mikan bisa dikatakan lebih kecil jika dibandingkan dengan jeruk lain pada umumnya, namun rasa manis dan segar Mikan membuat dahaga hilang ketika berhenti sejenak di areal perkebunan Mikan. Sepanjang jalan antara Uwajima dan Seiyo juga sering ditemui terowongan yang menembur perbukitan seperti rute-rute sebelumnya.
Tanjakan yang cukup melelahkan menyambut kami ketika memasuki Kota Seiyo,dan kami pun berhenti sejenak di Toserba Lawson untuk melepas lelah sejenak dan melanjutkan rute dengan melewati Kota Seiyo menuju Kota Yawatahama. Kali ini jalanan sangat landai dan turunan yang lumayan panjang menuju Kota Yawatahama.
Pemberhentian kita selanjutnya adalah Yawatahama Minato, yaitu areal setasiun yang terletak di pinggir pelabuhan kecil di kota Yawatahama. Yasu berkata kepada kami untuk beristirahat hanya 10 menit saja, namun kami kelewatan karena kami tak mau melewatkan berfoto di tepi pelabuhan kecil yang sangat indah. Hingga Yasu mengingatkan kami kembali untuk melanjutkan perjalanan dan kita harus sampai tujuan sebelum matahari terbenam, dalam benak saya wah kejutan apakah nanti ketika matahari terbenam. kami pun dengan semangat melanjutkan rute kami menuju finish.
(Doc: Miku)
Kami bersepeda menyusuri kota pelabuhan Yawatahama dengan ritme yang lebih cepat dari sebelumnya, Yasu,Chai, Ken dan Shelly mulai terlihat jauh di depan hanya Saya, Wu dan Aki yang berada di posisi belakang. Hingga kami menemui tanjakan terjal mereka yang diposisi depan semakin tak terlihat, dan saya tetap mengayuh sepeda saya di tanjakan dengan nafas yang susah dikendalikan.
Hingga di ujung tanjakan dari kejauhan tampak garis horizon, hamparan lautan lepas menyambut, seakan inilah upah dari tanjakan yang barusan kami tempuh, turunan dengan latar lautan lepas seakan membuat nafas terhenti. Hembusan angin laut yang menerpa wajah di sepanjang turunan seakan membuat saya teringat masa kecil ketika belajar bersepeda dan merasakan sensasi meluncur untuk yang pertama kalinya. Ini adalah moment terbaik selama bersepeda di Shikoku.
(doc: Wu)
Kurang lebih belasan kilometer terakhir rute ini melintang sepanjang garis pantai dengan pemandangan laut lepas yang indah, Yasu dan beberapa orang yang lain masih jauh di depan hingga beberapa menit kemudian saya melihat Miku dari kejauhan sedang menunjukkan arah untuk menuju titik terakhir rute kami yaitu Shimonada Station.
Ketika sampai di titik finish para peserta lain sudah sibuk berfoto, dan saya sadar jika saya adalah orang terakhir yang sampai di lokasi namun saya merasa lega setelah menyelesaikan rute hari ini sejauh 76 kilometer dengan baik.
Shimonada Station adalah stasiun kecil dengan latar lautan lepas yang sangat terkenal, bahkan ketika saya sampai, stasiun ini dipenuhi banyak pengunjung untuk menikmati keindahan sunset. stasiun ini sering menjadi lokasi shooting film drama jepang karena keindahannya, dan yang tidak kalah menariknya adalah stasiun ini juga menjadi inspirasi Hayao Miyazaki dalam film Studio Ghibli nya yang berjudul Spirited Away ketika scene Chihiro, Kaonashi dan Boh berangkat dari stasiun di tengah laut menuju kediaman Zeniba, keindahan tempat ini benar-benar menginspirasi.

Sekarang aku mengerti mengapa Yasu tidak ingin melewatkan moment sunset di Shimonada Station, Sunset di Shimonada Station adalah penutup yang epic untuk rute kami hari ini.. terima kasih Yasu.

Strava embed : https://www.strava.com/activities/2828234134 

Total panjang rute Ehime hari ini adalah 75 kilometer dengan jarak tempuh kurang lebih selama 3,5 jam, rute hari ini cukup landai di awal rute kemudian tanjakan di kilometer 10 hingga 18 dan selanjutnya adalah jalur yang mudah. Jalan aspal sepanjang jalan, tipe sepeda apapun bisa melalui rute ini, namun sepeda berjenis roadbike adalah pilihan yang tepat untuk menempuh rute ini dengan mudah.
Kami pun beranjak menuju Hotel Kikusui Imabari di Imabari setelah menikmati rute hari ini. Dan tiba saatnya untuk berpamitan dengan kedua guide kami yaitu Yasu dan Aki, berharap kami bisa bertemu dan bersepada kembali di lain waktu. Setiba di hotel kami langsung makan malam dan beristirahat setelah terpuaskan dengan destinasi menarik dan rute bersepeda yang tidak terlupakan. Sampai jumpa besok untuk hari terakhir kami di Shikoku.

(Bersambung).

Tulisan & Foto: Handa.

Related

trails 3467452202877382017

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item