Hari Kemerdekaan di Lembah Tumpang.


Merdeka!

Selamat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74.
Kegiatan bersepeda hari itu berawal ketika bertepatan tanggal 17 Agustus kemarin saya ditugasi mendokumentasikan kegiatan upacara hari kemerdekaan di salah satu lingkungan perumahan di Malang. Upacara itu berlangsung Pk. 07.00 dan berakhir sekitar Pk 9.00. Melihat semangat para peserta upacara yang diiringi lagu-lagu kebangsaan itu lambat laun mendorong saya untuk melakukan sesuatu. Sesuatu untuk menyalakan lagi semangat para pejuang tempo dulu. Setidaknya untuk diri saya sendiri. Seusai upacara, tanpa pikir panjang saya bergegas pulang, menatap ke arah sepeda yang sudah cukup lama tergantung dan berdebu. Ya. Inilah saat yang tepat mengembalikan semangat menulis, untuk postingan blog ini yang mulai mandul setahun terakhir.
Upacara dulu sebelum bersepeda.
Waktu menunjukkan sekitar Pk 10.00. Sudah sangat kesiangan untuk mengajak teman sehingga saya memutuskan bersepeda sendirian menuju Coban Jahe. Dengan kayuhan berkecepatan rata-rata 22 km/jam, saya berharap tiba di Tumpang secepatnya tanpa berhenti. Sayangnya, target itu gagal terpenuhi karena terik matahari siang itu membuat kayuhan saya terhenti sebentar di km 15 dengan nafas terengah-engah. Padahal hanya beberapa km saja sebelum gapura Tumpang. Payah!
Tempat saya berhenti di km 15.
Tiba di Tumpang Pk 10.40. Saya tak bertemu satupun pesepeda yang searah, kebanyakan mereka bersepeda  dari arah kebalikan (pulang). Jarak menuju Coban Jahe masih lumayan jauh. Konturnya pun masih naik turun. Akhirnya rute pun dirubah. Apalagi tadi terlihat papan penunjuk jalan beberapa ratus meter sebelum gapura Tumpang bertuliskan 'Lembah Tumpang 3km' ke arah selatan yang sepertinya juga menarik. Saya pun menuju ke sana.

Singkatnya, saya tiba di Lembah Tumpang. Alhamdulillah ternyata saya tidak sendirian. Terlihat seorang pesepeda sedang duduk beristirahat dan kami pun berkenalan. Beliau adalah Pak Budi, pesepeda asal Singosari. Bapak yang bekerja di PJKA stasiun Kotabaru ini ternyata juga bernasib sama. Sama-sama mengurungkan niat ke Coban Jahe dan sama-sama tergiur papan jalan Lembah Tumpang. Haha. Jujur, judul 'Lembah' itu memancing penghobi sepeda kesana. Padahal Lembah Tumpang adalah lokasi wisata berbayar yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga saat itu  kami hanya duduk-duduk di lahan parkir depan gerbang.
Papan penunjuk arah menuju Lembah Tumpang.
Bagian depan Lembah Tumpang dan Pak Budi yang tiba lebih awal.
Foto bareng Pak Budi.
Fasiltas yang ada di Lembah Tumpang.

Kami tidak berlama-lama. Botol saya juga sudah kosong. Setelah berpamitan dengan Pak Budi saya mencari warung terdekat untuk membeli minuman dingin sambil beristirahat sejenak menikmati suasana 17 an desa ini. Penduduk di sini sangat ramah. Terhitung sudah 3 orang bergantian menawari saya mampir di rumahnya ketika saya sedang mengambil foto lingkungan sekitar.  Di sini juga akhirnya saya dihampiri 2 anak di daerah tersebut yang sedang bermain sepeda. Mereka mengajak berfoto. Hehe. Tentu saja. Dengan senang hati!
Suasana perkampungan di sekitar Lembah Tumpang.

Tempat jual beli sepeda yang berada di samping warung.

2 anak yang menghapiri & mengajak foto.






Tulisan & Foto: Andy

Related

story 5432053427337509269

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item