Man Rambo, Pria Yang Melakukan Aksi Jalan Kaki Surabaya-Jakarta.

Surabaya, 24 Oktober 2018.

Pagi itu saya bersepeda dan tak sengaja bertemu seorang bapak sedang menyeberang jalan di salah satu sudut kota Surabaya. Dia berjalan sedikit gontai sambil menuntun sepedanya yang dilengkapi berbagai macam atribut yang sangat menarik perhatian. Seperti biasanya saya selalu berhenti untuk memotret setiap melihat sesuatu yang unik, terutama jika menyangkut  tentang sepeda. Saya pun bersiap, berancang-ancang mengambil jarak agak jauh didepan agar punya cukup waktu untuk menyiapkan kamera sambil menunggu bapak itu mendekat. Ternyata bapak ini tidak juga mengayuh melainkan tetap berjalan menuntun sepedanya lalu berhenti sembari menenggak botol air mineral yang dicomot dari sepedanya. Akhirnya saya menghampirinya, di sepedanya tertancap beberapa bendera dan poster bertuliskan pesan anti narkoba.

- “Bapak dari mana?” saya bertanya.
- “Saya dari Jakarta, Mas..jalan kaki.”
- "??!!"

Saya makin penasaran. Setelah terlebih dulu meminta ijin, mulailah saya memotret. Bapak ini dengan ramah malah mempersilakan saya jika ingin berbincang-bincang. Dia bisa meluangkan waktunya sejenak hitung-hitung sekalian beristirahat. Di mana? Ya di emperan itu. Eksklusif & personal. hehe.

Man Rambo, demikian bapak ini biasa disebut. Pria kelahiran Jayabaya 56 tahun lalu ini memang berniat berjalan kaki Surabaya-Jakarta pulang pergi membawa misi kemanusiaan, sosial dan budaya yang tujuannya mengajak bangsa ini untuk bersatu menghindari narkoba demi masa depan generasi yang lebih baik. Posisi saat itu dia baru saja tiba di Surabaya setelah menempuh perjalanan panjang pulang pergi yang memakan waktu 2 bulan lebih. Karena ini adalah misi berjalan kaki, sepeda itu tidak pernah dikayuhnya melainkan hanya digunakan sebagai sarana untuk menopang beban barang bawaannya. Kulitnya tampak legam terbakar sinar matahari, kedua kakinya mengenakan sepasang sandal jepit dengan warna yang berbeda. Bekas-bekas luka masih terlihat di sana. Dia bercerita jika telapak kakinya beberapa kali melepuh hingga akhirnya terbiasa. Pernah juga ada orang yang menawarkan bantuan ambulan ketika kondisinya tampak kurang memungkinkan tapi dia menolaknya. Tekadnya sudah bulat. Jika sudah demikian, tentu ada sesuatu yang kuat melatar belakangi misinya. Apa itu?


Latar Belakang.

Meski Man Rambo tak pernah berkutat dengan narkoba, tapi dia pernah berada di lingkungan di mana teman-temannya menggunakan narkoba. Dampak yang timbul akibat narkoba ditampakkan langsung di depannya. Tidak tanggung-tanggung, dia telah kehilangan 9 orang sahabat yang meninggal karena terjerat narkoba. Cerita klasik yang umum sering kita baca di surat kabar.

Tapi ada satu cerita pilu.
Kali ini ekspresi Man Rambo seketika berubah seperti menahan marah dan sedih. Dia berhenti sebentar, menyulut sebatang rokok sebelum kembali melanjutkan.
Ceritanya dia pernah memiliki seorang teman yang sudah berkeluarga. Orang tuanya tergolong mampu. Sadar usianya tak lagi panjang, si orang tua menyusun rencana dengan berupaya menyiapkan segala sesuatu termasuk warisan dan sebagainya dengan harapan si anak akan mendoakannya ketika mereka meninggal kelak. Hanya doa. Tidak lebih. Namun apa daya, semua berubah ketika tanpa sepengetahuannya, si anak ternyata terjerat narkoba. Seluruh hartanya terkuras habis hingga dia sakit dan akhirnya mati meninggalkan anak istrinya. Ironis. Doa anak yang semula diharapkan orang tuanya ternyata tak kesampaian, yang terjadi justru orang tua yang menghabiskan sisa hidupnya dengan terus mendoakan anaknya yang meninggalkannya lebih dulu. Kisah-kisah itulah yang akhirnya melecut Man Rambo untuk bergerak menjalankan misinya.

Catatan Perjalanan.

Pada awalnya, Man Rambo hanya berjalan kaki dengan membawa papan bertempelkan poster berisi pesan kemanusiaan yang  digendong di punggungnya. Dia memulai perjalanannya tanggal 19 Agustus 2018. Selanjutnya barang-barang bawaannya terus bertambah setelah mendapatkan pemberian dari orang-orang yang mendukung aksinya di perjalanan hingga akhirnya mendapatkan sepeda dari seorang teman di Jakarta. Ada satu lagi yang menarik yaitu buku diary perjalanan Man Rambo yang berisi dukungan, motivasi, dan testimoni dari semua pihak yang mendukung aksinya di setiap kota yang disinggahi. Rencana awalnya buku tersebut akan diserahkan ke Bpk Presiden RI. Tapi karena suatu sebab, Man Rambo berubah pikiran dan menyerahkannya ke BNN. Itu adalah buku perjalanan pertamanya dari Surabaya ke Jakarta. Selain itu banyak juga koleksi cindera mata berupa pin, ada juga gitar, semuanya kebanyakan dia dapat dari orang maupun aktivis kampus yang peduli terhadapnya di perjalanan.
Papan ini adalah barang pertama yang dibawa Man Rambo ketika memulai aksinya dengan cara dibopong di punggung.
DIARY PERJALANAN. Buku yang merupakan catatan perjalanan kedua Man Rambo dari Jakarta kembali ke Surabaya ini berisi tulisan motivasi dan dukungan dari berbagai kalangan di tiap kota yang dilewati. Beberapa diantaranya ada kalangan mahasiswa, club motor, seniman. Ada juga PT. Waskita Karya, Alfa Mart dan banyak lagi. Buku pertama yang berisi perjalanan dari Surabaya ke Jakarta telah diserahkan ke BNN.
Koleksi pin yang didapat selama dalam perjalanan. Masih ada banyak lagi lainnya yang tersimpan dalam tas.

Gitar yang didapat dari sebuah universitas dan langsung ditempeli sticker oleh Man Rambo.

Suka Duka.

Perjalanan berjalan kaki ini tidak lancar dan mudah begitu saja. Selain merasakan letih dan sakit di kakinya, Man Rambo juga sering berpapasan dengan orang yang kurang menaruh respek padanya. Ada yang mencemooh, meremehkan dan menertawakannya, entah karena melihat berabagai atribut yang melekat di tubuh dan sepedanya atau karena kegilaannya berjalan kaki menempuh jarak jauh. Tapi Man Rambo sudah terbiasa dengan semua itu dan tak peduli. Sebisa mungkin dia menyampaikan maksud dan tujuannya kepada setiap orang yang bertanya. Jika kisah-kisah pengalaman yang dia ceritakan bisa membuat orang semakin tergerak hatinya menjauhi narkoba, itu sudah cukup membuatnya lega.
Handle bar yang dilengkapi lampu. Terbayang ketika melintas di jalanan sepi yang gelap gulita. Di sana juga ada tab yang menancap pada dudukan. Siap merekam berbagai kejadian.
Perjalanan panjang ini memakan waktu lama. Dua buah speaker yang menempel pada frame itu menjadi teman pengusir rasa bosan. Kalau power bank yang terselip di tas shimano itu terhubung pada tab di handle bar.

Selain barang-barang yang tampak pada foto di atas, sepeda Man Rambo juga membawa sejumlah barang lain seperti tikar karet, botol minuman panas, sejumlah sticker dan banner berisi pesan anti narkoba untuk dibagikan.

Tak terasa sekitar setengah jam kami berbincang. Tak terasa juga dari tadi banyak orang lalu lalang dan heran melihat saya dan Man Rambo ngobrol sambil ngesot di pinggir jalan hingga akhirnya ada sepasang laki-laki dan perempuan datang mendekat dan minta foto.

 Sakit di tubuhku tak jadi hambatan,
Luka di kakiku tak jadi rintangan,
Ku berjalan dan selalu berjalan agar sampai tujuan dan harapan,
Kucoba bertahan dalam perjalananku ini walau luka kakiku semakin nyeri,
Ku memohon dan selalu meminta agar Tuhan memberikan kekuatan.

Syair di atas adalah karya Man Rambo sendiri yang dibuatnya di perjalanan. Dia bersenandung lalu meminta saya menuliskannya sekaligus menutup perbincangan pagi itu.



Tulisan & Foto: Andy

Related

story 2151129128417576923

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item