Kebun Teh Wonosari di Minggu Pagi.

Minggu. 9 Sept 2018.

Mencoba kembali jalur kebun teh Wonosari, kami berlima (Fiyan, Indra, Rizal, Ropen dan saya) sepakat menuju ke sana. Memori ketika beramai-ramai bersepeda di sini beberapa tahun silam muncul lagi di ingatan. Perpaduan jalur beraspal dan offroad yang seimbang serta view panorama yang menawan di sepanjang perjalanan menyebabkan rute ini digemari oleh para penggemar tanjakan maupun turunan. Minum teh di warung Bu Jujuk maupun bersantai di kawasan Sumberawan juga sudah menjadi paket yang tak terpisahkan.

Aktifitas pagi itu dimulai Pk. 6.30 melalui jalan perkotan kota Malang kemudian masuk melewati kawasan Candi Singosari dan terus menanjak. Peringatan hari kemerdekaan RI yang sudah lewat hampir sebulan lalu ternyata nuansanya masih kental terasa ketika kami melintasi perkampungan. Rata-rata dari kami sudah cukup lama tidak bersepeda, bahkan salah satu rider mengaku sudah setahun lebih sejak terakhir kalinya mengayuh pedal. Ini membuatnya sedikit kedodoran ketika berada di tanjakan.
Bendera dan umbul-umbul NKRI masih banyak terlihat di Singosari.
Bekas dekorasi karnaval HUT RI yang belum dibongkar. Entah ini apa maknanya. Ada yang tahu?
 Yang menarik, di pertengahan jalan Singosari kami disodori bingkisan berisi air mineral dan sepotong coklat untuk tiap rider lengkap beserta selembar brosur dari 2 orang yang membagikannya. Mereka juga melakukannya kepada setiap pesepeda yang lewat. Setelah melihat isi brosur ternyata ini adalah bagian dari promo jasa servis sepeda milik mereka, Permana Bike. Keren. Lebih detailnya silakan tengok IG @permanabike_sgs
Kami terus menanjak dan sempat berhenti beberapa kali untuk mengambil nafas. Bung Ropen  sempat merasakan kepalanya berkunang-kunang seperti mau pingsan, namun perlahan tapi pasti, kami tiba juga di warung Bu Jujuk.
Spot tempat pertama kali kami berhenti. Sementara itu tampak pesepeda lain ada yang sudah turun.
Indra, Fiyan, Rizal mulai jauh di depan.
Bung Ropen ketika berhenti mengatur nafas di pertengahan tanjakan.
Salah satu spot dengan view panorama yang menyejukkan mata.
Ropen mulai kehabisan tenaga, dia mengajak Fiyan bertukar sepeda. Harapannya untuk bisa menggunakan sepeda yang lebih ringan.
Ibu-ibu yang ngobrol di pos itu menawari kami ubi rebus. Tapi matahari sudah terlalu terik sehingga kami memutuskan langsung melanjutkan perjalanan.

Warung Bu Jujuk. Tempat kami sarapan yang saat itu kondisinya sedang ramai.
 Setelah mengisi perut di warung Bu Jujuk, perjalanan dilanjutkan melewati turunan yang kering dan berdebu. Masih seperti dulu, yang membedakan hanya kali ini kami lebih banyak bertemu dengan motor trail dari arah berlawanan.

Kawasan wisata Candi Sumberawan.

Akhirnya tiba di sini. Tempat yang dulunya sepi sekarang mulai tampak ramai dengan konsep wisata. Air dari sumber terlihat jernih mengalir, cocok untuk bersantai sambil memesan minuman dan makanan yang tersedia di kios atau warung yang ada di situ. Selain itu ada hal baru yang dapat dilakukan disini yaitu memberi makan kera. Asal hati-hati karena keranya sedikit galak.


Tulisan & Foto: Andy

Related

story 3370529126190406991

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item