Ke Coban Jidor


Sabtu, 31 Maret 2018

Pagi itu sebenarnya tak ada rencana bersepeda. Segelas kopi panas yang saya minum setelah subuh tadi sudah habis, semangkuk bubur ayam yang saya pesan setelahnya dari penjual yang ada di depan rumah juga sudah tersantap ludes. Saya sempat bengong lama, mondar mandir, sebelum akhirnya memutuskan untuk bersepeda pada jam yang kesiangan, Pk 7.50. Tujuan awalnya cuma bersepeda ringan ke arah timur menuju Coban Jahe. Konon katanya aksesnya mudah karena jalurnya cuma lurus dan beraspal. Saya berasumsi paling lambat Pk. 10.30 sudah tiba di rumah padahal saya sama sekali belum pernah mencobanya.

Lalu lintas saat itu sudah terlihat ramai. Rute awal menuju ke sana memang membosankan karena dari Blimbing ke Tumpang hanya lurus panjang dengan kontur cenderung rata. Singkat cerita saya tiba di persimpangan di mana di sana terpampang papan tulisan penunjuk arah. Di situ tertera berbagai lokasi coban yang bisa dikunjungi lengkap dengan jarak tempuhnya. Dari sinilah rencana saya berubah, tujuan Coban Jidor diambil karena menawarkan jarak tempuh terpendek dengan harapan bisa pulang lebih cepat.

Tapi ternyata..

Hanya beberapa kayuhan dari situ saya sudah bertemu papan penunjuk berikutnya. Tertulis Coban Jidor 3,5 km. Cepat juga. Karena mengira sudah dekat, saya pun mengayuh lebih santai dan lebih banyak berhenti di setiap spot yang menarik untuk memotret. Tak terasa tanjakan yang dilewati makin lama makin terjal sementara ujung 3,5 km yang dijanjikan tadi tidak juga tampak. Saya sempat bertanya ke beberapa petani yang kebetulan lewat dengan jawaban yang selalu sama “tasik tebih..” (masih jauh)
View sepanjang perjalanan ke Coban Jidor.
Bertemu para siswa SDN Ngadirejo.

Sampai suatu ketika saya mengayuh perlahan memasuki gapura Desa Ngadirejo, tak jauh dari situ terlihat lapangan sepak bola yang bersebelahan dengan sekolah berlatar belakang pegunungan, yang berada di sebelah kiri jalan. Di situ saya dikejutkan teriakan anak memanggil dari kejauhan “Pak, ate nangndi?” (Pak, mau kemana?)
Di ujung sana, 2 anak SD berseragam pramuka, membawa bola, datang menghampiri.
“Mau ke Coban Jidor dik” jawab saya.

Mereka terlihat ramah. Itu yang membuat saya memutuskan beristirahat sebentar di sini dan mengeluarkan kamera lalu bercengkrama dengan kedua anak tersebut. Aktifitas kami ternyata menarik para siswa lain yang berada di sekolah itu untuk datang bergabung, saya juga mempersilakan mereka semua satu persatu mencoba sepeda saya. Kebetulan saat itu adalah jam istirahat. Kami menyempatkan foto bersama sebelum saya beranjak pergi. Cuma sebentar tapi lumayan seru.
Memasuki Desa Ngadirejo.
Bambang dan Findi. Dua siswa kelas 6 SDN Ngadirejo yang menyapa saya di perjalanan.
Salah satu siswa mencoba sepeda saya, sementara yang lainnya menatap tak sabar menanti giliran.
Saya bersama anak-anak SDN Ngadirejo.
Sulitnya akses ke Coban Jidor.

Setelah itu rutenya masih terus menanjak memasuki perkampungan hingga tiba di persimpangan yang memisahkan rute Coban Jidor dan Coban Jodo. Tak jauh dari situlah akhirnya saya bertemu dengan gerbang masuk kawasan Coban Jidor yang kurang terawat. Tempatnya sepi. Dari sini jalurnya memasuki hutan, menurun terjal dan berlumut.
Rute yang memisahkan Coban Jodo (lurus) dan Coban Jidor (ke kanan).
Gerbang masuk kawasan Coban Jidor yang kurang terawat.
Jalur turunan lurus panjang yang berlumut.
 Tepat di di akhir turunan jalurnya berganti menanjak sama terjalnya hingga (lagi-lagi) bertemu gapura selamat datang Coban Jidor. Di situ hanya ada tangga setapak yang menurun, terbuat dari bambu yang tidak mungkin dilewati sepeda kecuali dituntun. Jalur setapak ini juga sangat panjang dan tak kelihatan ujungnya. Untuk kembali lagi ke atas nantinya tentu akan menjadi persoalan. Saya lalu meletakkan sepeda di pertengahan dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Suasananya seram karena saya hanya seorang diri, terlebih ketika berada di tepian tebing.
Pintu masuk kedua menuju Coban Jidor.
SEPI. Sudah turun cukup jauh tapi tangga bambu ini seperti tak berujung. Saya nekat meninggalkan sepeda di sini dan berjalan kaki.
SERAM. Ini titik terakhir saya berada. Tebingnya menggantung tepat di atas kepala seperti akan runtuh. Di sisi seberang juga terlihat bekas tanah longsor.
Aliran sungainya sebenarnya sudah tampak, sayang saya belum juga bisa melihat air terjunnya.
Akhirnya saya memutuskan putar balik, mengambil sepeda dan membopongnya kembali ke atas. Terhitung dari sini saya sempat berhenti 3 kali hingga kembali ke gapura pertama untuk mengatur nafas. Sangat menguras tenaga.
Selanjutnya saya mengayuh lunglai di saat matahari sedang terik-teriknya dan tiba di rumah Pk 13.00. Sedikit kecewa karena sudah bersusah payah tapi gagal melihat air terjun. Untuk mengobati rasa penasaran lalu saya mencari informasi yang berkaitan di internet dan mendapatkannya di sini.

Oalah..pantas.
Kenapa tak membaca dulu sebelumnya?



Foto & Tulisan: Andy





Related

story 2801737394707915816

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item