Apel Pujon.

Sudah lama blog ini seperti mati suri. Terbengkalai. Tak ada tulisan baru sejak postingan terakhir terpublish. Situasi sekarang memang berbeda. Dulu kami sering melakukan group ride dengan menelusuri rute baru, keluar masuk hutan hampir tiap minggu. Kini seiring berjalannya waktu, masing-masing individu terlibat kesibukannya sendiri (termasuk saya) yang menyebabkan sulitnya mengatur jadwal untuk kembali sinkron seperti dulu.
Namun kali ini saya benar-benar rindu, untuk kembali memotret dan menulis cerita bersepeda seperti biasanya. Kebetulan akhir minggu ini saya punya waktu lumayan longgar. Saya sempat menawarkan beberapa teman untuk bergabung tapi lagi-lagi jadwalnya bertabrakan dengan agenda mereka. Apa boleh buat, sendirian atau ramai-ramai, saya pastikan tetap berangkat.

Minggu, 11 Maret 2018.

Bertepatan dengan peringatan Supersemar, pagi itu saya mengayuh ke arah kota Batu, tujuan awalnya menjumpai teman saya, seorang fotografer yang sedang memotret jalanan di seputaran alun-alun kota Batu. Selanjutnya dari sana saya sendiri belum tahu, sepenuhnya akan saya pasrahkan kemana saja sejauh lutut ini mampu.
Break sejenak di Dino Park. Tempat wisata yang baru saja dibuka beberapa bulan lalu ini belum pernah saya coba. Jika mengacu harga tiket masuk kesana yang dipatok Rp 150.000/orang, maka sepatutnya berkualitas istimewa.
Tiba di alun-alun Batu. Teman saya, Handa, sudah menunggu.
Alun-alun Batu menjadi tempat jujukan keluarga menghabiskan waktu di minggu pagi.
Hanya beberapa menit saja disitu, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah Pujon. Tanjakan berkelok dengan view sejuk ke arah kota Batu dan Malang menjadi tantangan sekaligus hiburan selanjutnya. Dari sini pesepeda yang mengambil rute sama mayoritas menggunakan road bike.

Ini ketika saya berhenti membeli sebotol air mineral di seberang jalan. Terlihat pedagang apel sedang bersiap memulai aktivitas. Maksud hati ingin bersantai makan apel disini tapi saya menundanya karena saya masih berada di awal tanjakan menuju Pujon.
IN A RELATIONSHIP. Dartmoor Hornet keluaran 2012. Tak terasa sudah 6 tahun saya bersamanya. 26" still rocks!
View kota Batu yang terlihat dari sepanjang tanjakan berliku.


Macet.

Menjelang masuk gapura perbatasan Batu-Pujon terjadi sedikit kemacetan yang ternyata dikarenakan tanah longsor yang membuat pipa air terputus. Di sela- sela kemacetan
terlihat banner bertuliskan 'Apel murah mumpung panen'. Cocok sekali. Saya pastikan disitulah saya berencana mengakhiri perjalanan dan bersantai.

Warga sedang membenahi pipa yang patah akibat tanah longsor.
IKLAN PENAMBAH SEMANGAT. Tulisan 'Apel murah' memang menggiurkan, tapi yang lebih menarik adalah tulisan '1 km lagi'.

Tiba di patung sapi. 

Di sini saya berjumpa 2 pesepeda asal Batu yang sedang beristirahat. Kami saling mengenalkan diri lalu saya menyempatkan motret sepeda dengan latar belakang patung sapi. Stok foto macam ini sebenarnya saya sudah punya banyak, hanya saja ini demi melestarikan tradisi sesama pesepeda (hehe). Kemudian saya melanjutkan perjalanan sedikit memasuki Pujon dengan tujuan akhir lokasi penjual apel.
PATUNG SAPI. Pesepeda yang mengambil rute kemari sering menyebutnya Patpi. Ini menjadi icon khas pencapaian akhir tanjakan segmen Pujon. Spot wajib buat selfie.
View khas Pujon.
Kios Apel.

Akhirnya saya tiba di tempat itu. Saya perhatikan kebanyakan apel-apel di sini sudah terikat rapi dalam kantung. Terus terang meskipun ingin, saya kesulitan membawanya naik sepeda jika harus membeli sekantung karena saya hanya membawa tas slingshot yang sudah cukup sesak terisi kamera DSLR dan sebotol air mineral.
Saya bertanya: “Bisakah saya membeli beberapa butir apel saja untuk dimakan disini?”.
Di luar dugaan Ibu ini malah menawarkan untuk mengambilnya saja, gratis. Meskipun saya sudah memaksanya dengan menyodorkan uang tapi Ibu ini bersikukuh menolak menerimanya dan justru mempersilakan saya istirahat di sini. Alhamdulillah, setelah berterima kasih akhirnya saya mengambil 2 butir apel lalu berbaur dengan petani yang bekerja di situ.

Sepeda yang tidak terlalu istimewa tapi cukup membuat para petani ini penasaran.
'KRAUUK'. Gigitan pertama yang berkesan. Rasanya juicy. Cairan manis dan asam membasahi kerongkongan yang telah kering sedari tadi. Luar biasa segar dan nikmat. Tak salah jika mungkin dari sinilah masa kejayaan mendiang Steve Jobs berawal.  Apel Pujon.



Tulisan & Foto: Andy

Related

story 2534775880481526273

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item