Reuni Texaz, Komunitas BMX Tertua di Malang.


Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.

Bertepatan dengan lebaran kemarin, berbagai ucapan, undangan halal bihalal ataupun reuni sekolah bertebaran di timeline sosial media. Saya membacanya satu-persatu secara cepat dan acak sampai mata ini akhirnya tertuju pada poster bertuliskan Texaz BMX Old school ’85 Reuni Akbar & Halal Bihalal. Tiba-tiba saja nama ini membawa saya puluhan tahun jauh ke belakang pada memori silam, dimana kala itu saya pernah mempunyai masa kecil yang bahagia bersama teman-teman dengan sepeda bmx.

Texaz adalah salah satu komunitas/tim bmx terbesar di Malang pada masa itu (tahun 1985 hingga 1990 an). Pada masa itu pula bmx menjadi salah satu trend yang digandrungi anak-anak dan remaja selain breakdance dan skateboard. Sejumlah atlit sepeda berprestasi juga berasal dari sana di antaranya adalah Priyo Susanto dan Benny Setyawan.

Nostalgia.


Sedikit mengenang masa lalu, merk sepeda seperti Redline, Kuwahara, Diamond Back dan Haro menjadi idaman waktu itu. Tapi ada yang lucu, kami menyebut beberapa parts sepeda dengan istilah yang menyisakan misteri hingga sekarang. Adakah yang tahu dari mana istilah di bawah ini berasal?
Frame : bayangan
Hub : bos
Stem : manuk’an


Sepeda gabung.

Di akhir era 80an ada juga istilah sepeda gabung. Yang ini sedikit liar dan ilegal. Sudah menjadi tradisi di bulan puasa, di setiap selesai subuh para pesepeda akan keluar dari rumahnya di manapun mereka dan apapun sepedanya. Satu pesepeda bergabung dengan pesepeda lainnya membentuk grup, kemudian grup ini bertemu dengan grup lainnya dan membentuk grup yang lebih besar, demikian seterusnya hingga terbentuklah grup dengan jumlah pesepeda yang luar biasa banyaknya. Selanjutnya mereka bersepeda ramai-ramai beriringan menutup jalur poros 2 arah di kota Malang hingga transportasi umum seperti bus antar kota kesulitan bergerak. Grup sepeda gabung ini baru bubar ketika polisi mengejar. Tak jarang ada yang tertangkap dan terpukul pentungan. Sayangnya saya tak menemukan satupun informasi tentang ini di internet.

Bmx dan budayanya tidak datang begitu saja mengingat saat itu tidak ada internet apalagi youtube. Mereka mempelajari trik bmx dan mengenal merk-merk sepeda dari video VHS yang di-pause and play berulang-ulang. Beberapa film bmx yang menginspirasi di antaranya adalah RAD (1986), dan ada juga BMX Bandit (1983) yang salah satu bintangnya diperankan Nicole Kidman yang ketika itu masih imut-imut.
Ah, andai si Nicole melihat poster Reuni Akbar ini beliau mungkin juga ingin hadir..

Reuni.

Sore itu (30 Juni 2017) kami berkumpul di lokasi yang berada di Taman Mojolangu. Di sana terdapat bmx park yang diapit oleh skate park dan sirkuit motocross. Ada juga lapangan futsal yang terletak tak jauh dari situ. Para senior (atau lebih tepatnya sesepuh) yang datang langsung berbaur dengan yang muda. Suasana semakin cair ketika mereka dari generasi yang berbeda ini menyempatkan bermain bmx bersama meski hanya sesaat. Sangat luar biasa melihat ada di antara para sesepuh yang rata-rata bertubuh tambun dan berusia di atas 40 tahun ini masih memiliki sentuhan yang baik dalam memainkan trik-trik bmx.


We build our own park.

Kabarnya bmx dan skate park ini dibangun dari hasil jerih payah komunitas itu sendiri meskipun secara kasat mata terlihat jelas jika kualitas skate park masih lebih baik dibandingkan bmx park. Untuk itulah pada kesempatan halal bihalal ini sekaligus para sesepuh bertemu juniornya untuk membicarakan tentang itu.
KONTRAS. Perbedaan kualitas skate park (sebelah kiri) dan bmx park (kanan).
Ibat (berkacamata) mewakili TXZ generasi pertama, memimpin langsung pertemuan yang membahas tentang dukungan pengembangan bmx park dan segala kegiatan yang berkaitan dengan komunitas. Sementara Dypta (kaos hitam) berdiri mewakili TXZ generasi sekarang. (kalau tidak salah ini sudah yang ke-4)
Bambang menekankan bahwa nantinya komunitas ini jangan hanya dijadikan tempat kongkow saja tapi harapannya juga bisa melahirkan atlit berprestasi.

Galang Dana.

Sore itu ditutup dengan acara galang dana sukarela untuk pengembangan bmx park. Fasilitas yang tersedia memang terlihat masih kurang, swadaya komunitas saja sepertinya tidaklah cukup jika ingin meningkatkan prestasi. Dukungan dari siapa saja yang berkenan nantinya akan sangat membantu. Hal ini juga terbuka lebar terutama bagi anda yang termasuk generasi awal meski saat ini tidak lagi bermain sepeda. Anggap saja ini sebagai balas budi atas serunya masa kecil yang pernah anda dapat. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Dypta atau grup fb TXZ BMX Malang.
Kegiatan galang dana yang direspon dengan antusias.

Akhirnya kegiatan pun berakhir menjelang maghrib, setidaknya bagi para sesepuh. Tapi khusus untuk mereka yang muda tetap melanjutkan aktifitasnya di sini hingga malam.

Teruslah bertahan dan tetap semangat.
Long live TXZ !

Tulisan & Foto: Andy

Related

story 7043032537513756616

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item