Desa Poncokusumo dan Paul Cummings.


Minggu, 5 Februari 2017.

Hari itu cuacanya sejuk dan sedikit mendung. Sudah 3 hari belakangan ini kota Malang diguyur hujan terus menerus. Itulah sebabnya, untuk menghindari lumpur kami berencana bersepeda ke arah timur  atau tepatnya di desa Poncokusumo dengan  mengambil porsi jalan beraspal yang lebih banyak. Kebetulan kami mempunyai teman di sana (Angga) yang bersedia mengantar kami berkeliling daerahnya jika kami tiba. Kami juga makin antusias setelah melihat galeri foto pemilik akun instagram @nendespinus ini. Meski begitu untuk mencapai kesana kami harus mengayuh sekitar  kurang lebih 30 km. Kami sangat berharap semoga hari itu tidak hujan.

Start.

Kami berjumlah  6 orang (Anas, Vicky, Antony, Heri, Ari, & saya) memulai perjalanan dari Blimbing Pk 6.30. Yang lucu perjalanan bersepeda bersama ini terlihat kontras. Antony dan Vicky yang punya jam mengayuh paling tinggi selalu berada jauh di depan dan berhenti menunggu lama di titik tertentu. Sementara yang lain terlihat lebih santai menikmati setiap kayuhan dengan tidak melewatkan momen untuk berhenti dan berfoto di setiap gerbang perbatasan.

Re-group. Momen ketika teman-teman menunggu Anas (bertopi merah) yang tiba paling akhir di tengah perjalanan.

Memasuki Desa Poncokusumo.

Setelah melewati pasar Tumpang barulah tanjakannya terasa lebih terjal. Konturnya terus seperti itu hingga memasuki gerbang Desa Poncokusumo. Di sini kami banyak berjumpa dengan banyak rombongan pengendara motor trail. Di samping kiri kanan sudah mulai tampak hijau segar dengan view pegunungan di depan. Akhirnya inilah yang mampu mengalihkan perhatian kami dari tanjakan yang mulai mengikis stamina.


Berjumpa dengan Paul Cummings.

Di gapura masuk Poncokusumo kami bertemu dengan Angga. Waktu saat itu menunjukkan sekitar Pk. 9.30. Angga membawa kami menuju warung yang ada di sana untuk sarapan. Di sinilah awalnya kami tak sengaja bertemu dengan seorang kakek berparas eropa, duduk di kursi roda ditemani seorang ibu yang dengan sabar menyuapinya makan. Pada awalnya kami tak mengenalnya hingga ibu yang ramah ini  berbincang dengan Vicky dan berulang kali menawari kami untuk mengunjungi rumahnya yang berada tak jauh dari situ, bahkan jika mau kami dipersilakan untuk memetik cabai di kebun belakang rumahnya. Gratis. Dari bapak yang ada di situ, kami mendengar jika panggilan kakek ini adalah Paul dan pernah melatih klub sepak bola di Indonesia. Dengan cepat Ari mencari informasi yang berkaitan dengan itu melalui aplikasi google. Benar saja, pria asal Inggris yang sudah berkewarganegaraan Indonesia ini bernama Paul Cummings. Dia adalah mantan pelatih klub Perseman Manokwari di era ketika Adjad Sudrajat dan Djajang Nurjaman masih memperkuat Persib Bandung dan sempat juga melatih PSBL Bandar Lampung. Para pecinta sepakbola nasional generasi 80-90an awal mungkin akan familiar dengan namanya. Menyimak kiprah dan kisah pengalaman hidup Paul hingga saat ini ternyata sangat mengharukan. Anda bisa melihatnya di link ini. Paul saat ini telah menetap di Poncokusumo. Terus terang setelah membaca cerita tersebut ada perasaan sedikit menyesal, seharusnya kami bisa meluangkan sedikit waktu dan menerima tawaran Ibu tadi untuk berkunjung. Semoga kami bisa kembali lagi lain waktu untuk mereka. Kebetulan Vicky sempat bertukar nomor telepon dengan ibu itu.
Warung Jawa. Tempat kami sarapan. Lingkungan di desa ini luar biasa bersih.
Paul Cummings dan ibu yang menyuapinya.
Ledok Ombo Camping Ground.

Usai menyelesaikan sarapan, selanjutnya Angga membawa kami menuju Ledok Ombo Camping Ground. Di sana menjadi tempat kami bersantai sekaligus titik terakhir perjalanan. Suasananya tidak terlalu ramai. Yang menarik di sana menyediakan beberapa rumah pohon dan hammock. Kami menghabiskan waktu di sini sambil memesan kopi dari penjual yang ada di situ.

Turun ke sungai.

Ternyata dari spot camping ground ini Angga masih mengajak kami turun sedikit mengunjungi sungai, menikmati view sejenak dan yang terakhir dia mengundang kami bersantap siang di rumahnya yang jaraknya hanya 10 menit dari sini. Sedap. Terima kasih!

Angga (topi biru), tuan rumah yang menjamu kami makan siang di rumahnya.

Pulang.

Kami tidak bisa berlama-lama di rumah Angga. Bukannya bermaksud SMP (selesai makan pulang), tapi saat itu memang sudah semakin siang dan sinar matahari juga makin terik. Awalnya kami mengira perjalanan pulang ini akan mudah karena konturnya lebih banyak turunan, namun diluar perkiraan angin bertiup lumayan kencang menerpa dari arah berlawanan, membuat kami mengayuh lebih berat terutama sejak berada di Tumpang hingga Blimbing dimana jalannya sudah relatif datar.



 Tulisan & Foto oleh: Andy



Related

story 1521821868133332341

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item