Yang Tersisa Dari Kedatangan Pitts Jakarta di Malang.


Sabtu, 26 Nov 2016.

Grup sepeda Pitts Jakarta datang lagi di malang. Grup asal Jakarta ini mengulang kegiatan bersepeda mereka 3 tahun lalu. Kali ini mereka datang dengan jumlah peserta yang lebih sedikit namun tidak mengurangi kehebohan pada saat itu. Bersepeda bersama mereka selalu menyenangkan. Masih seperti dulu, joke-joke spontan dengan logat khas jakarta kembali terlontar di setiap kayuhan membuat perjalanan ini diliputi suasana tawa yang ceria. Antony, Indra, Vicky dan saya mengantar mereka mengunjungi trail TW, Cangar dan Parangtejo selama 2 hari (25-26 Nov).

Cuplikan perjalanan hari kedua di trail Cangar.

Berangkat dari hotel Swiss-Bellinn, kami bertolak menuju Cangar menggunakan 2 kendaraan pickup untuk mengangkut sepeda dan 1 mobil van untuk penumpang. Perjalanan dalam kendaraan ini memakan waktu kurang lebih satu jam melewati tanjakan aspal yang berkelok dengan pemandangan alam yang menawan. Canda tawa seperti tak pernah lepas selama kami berada dalam kendaraan, salah satunya yang lucu adalah ketika melihat rombongan ini saling berdebat melawan godaan kuliner yang terpampang di sepanjang jalan,hehe.
Perjalanan menuju titik start yang hanya bisa dilalui mobil kecil. Kami meninggalkan mobil van di bawah.
Rombongan Pitts tiba di titik start.
Mengawali perjalanan dengan tanjakan lumayan panjang. Cuaca cerah dan hawanya sejuk tapi kabut sepertinya akan turun tak lama lagi.
Salah satu jalur yang rusak akibat tanah longsor.
View tanah longsor akibat hujan dilihat dari arah seberang.
Jalur dengan permukaan berbatu, lumayan panjang dan cukup membuat otot lengan bekerja ekstra.
Selalu menyempatkan waktu untuk berhenti sekaligus beristirahat sejenak menikmati alam di setiap spot yang dirasa menarik. Sayang jika hanya dilewatkan begitu saja.

Di Percabangan.

Suatu ketika kami tiba di percabangan yang mengarah ke kiri dan satunya lagi ke kanan. Tapi jalur yang akan ditempuh adalah lurus sehingga harus menerobos jalan yang terputus. Jalur itu agak curam meski hanya beberapa meter. Guide leader saat itu, Antony, menghentikan rombongan dan menyampaikan kondisi yang ada.

“Hati-hati, jalur di depan ini agak curam tapi masih bisa dilewati. Jika ada yang tidak yakin, bisa juga sedikit memutar lewat samping. Silakan dipilih.”

Rombongan pun terbagi. Ada yang lurus, ada juga yang mengambil opsi 'chicken way'. Namun tetap saja, jika suatu rombongan dihadapkan dua pilihan, selalu saja muncul golongan abu-abu alias rider yang ragu-ragu antara yakin dan tidak. Satu-persatu rider meluncur turun hingga menyisakan mereka yang ragu-ragu ini.

Dari sini mulailah..
Salah satu rider mengambil ancang-ancang, memundurkan sepedanya beberapa meter, kemudian menarik nafas dalam. Dengan wajah tegang kedua matanya berusaha fokus menatap pada turunan curam yang ada di depan. Teman-teman lainnya hening menanti aksinya. Setelah merasa cukup yakin mulailah dia menggenjot pedalnya. Namun tepat ketika sepedanya hanya beberapa jengkal saja dari tepian, sekonyong-konyong salah satu rekannya nyeletuk

“udah nulis surat wasiat belum tuh?”

Sontak, rider tersebut dengan refleks cepat menarik tuas rem erat-erat. Sepedanya terhenti tepat di ujung tepian. Gelak tawa rekan-rekannya pun seketika memecah keheningan saat itu. Haha, tapi benar juga, rider mana yang tidak tergetar mendengar pertanyaan seperti itu? Apalagi adegan barusan sudah menyerupai kisah tentara yang akan meninggalkan keluarganya menuju medan perang. Alhasil, diapun mengurungkan niatnya dan mengambil opsi chicken way.
Good choice.
Jalur turunan yang ada di percabangan.

Rider yang mengenakan jersey biru dengan helm oranye ketika baru saja memutuskan mengurungkan niatnya.
Bertemu dengan petani-petani lokal.
Melewati sebagian jalur yang berlumpur tebal akibat guyuran hujan.
Hujan sempat turun beberapa saat. Kami berteduh di sebuah gubuk sembari mengenakan raincoat.
Kabut tebal akhirnya datang juga.
Jalur keluar menuju titik finish.

Akhir perjalanan trail Cangar. 

Trail Cangar akhirnya berujung di kedai Sego Gurih. Di sana menyediakan menu khas wedang jahe gula merah. Pas sekali dinikmati di cuaca yang dingin sambil berbincang-bincang setelah baru saja kehujanan. Kedai yang berada di tepian tebing dengan dinding terbuka di sisi samping dan belakang ini juga mengalirkan hawa sejuk lengkap dengan pemandangan alam lepas yang menenangkan.
Kedai Sego Gurih.

Wedang jahe gula merah menemani canda tawa grup Pitts di akhir perjalanan trail Cangar.


Foto & Tulisan: Andy

Related

story 1490976851909676683

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item