Jalur Gap Dadakan di Unique Race Seri 3.


Minggu, 6 November 2016

Seperti Unique Race (UR) sebelum-sebelumnya, hari itu saya ditugasi Royan Syah untuk memotret jalannya race di sepanjang lintasan UR 3. Menurut saya, ada yang berbeda dari unique race kali ini. Jika UR sebelumnya atmosfir unik terasa sangat kental dengan balapan secara team, maka UR yang ketiga ini nuansa race individual-nya yang lebih dominan. Kategori yang ada pada balapan ini adalah seperti race pada umumnya (kecuali kategori match & unique dan enduro Ketepatan Waktu yang tetap dipertahankan). Selain itu, nuansa race juga bisa dilihat dengan tampilnya sejumlah rider profesional papan atas macam atlit DH Popo Aryo.
Popo Aryo, salah satu atlit DH nasional yang ikut meramaikan event ini.
Saya mulai mengayuh dari titik start, mengikuti race line yang terpasang mengikuti jalur liasion stage yang menanjak hingga tiba di start SS. Selanjutnya saya berhenti disini sambil memotret beberapa rider sebelum kemudian meluncur lagi dengan tetap mengikuti rambu-rambu penunjuk arah yang ada. Semua rambu-rambu itu memiliki desain dan ukuran yang pas di mata serta penempatannya pun cukup bagus pada titik-titik yang memudahkan rider membacanya tanpa harus mengurangi laju sepeda.
Jalur paving yang harus dilewati pada saat liasion stage.
Suasana di garis start Special Stage (SS).
Salah satu rider ketika berada di tikungan awal.
Hingga suatu ketika saya tiba di percabangan, dimana disana terpasang raceline berwarna merah. Ada 3 jalur disana. Yang di sebelah kiri dan tengah ditutup menggunakan raceline. Bedanya, jalur yang sebelah kiri posisi raceline masih berada di atas rider sehingga masih bisa dilewati tanpa kendala apapun sedangkan jalur tengah sudah jelas raceline tersebut menghalangi. Jalur yang ketiga atau paling kanan posisinya terbuka namun sedikit menanjak. Pada kecepatan tinggi, otomatis rider akan mengambil jalur yang pertama (termasuk saya), hanya saja saya sedikit ragu, saya melintas dengan lancar tapi bukankah baru saja saya tadi melanggar garis merah?
Saya meletakkan sepeda dan berjalan kaki kembali ke pita merah tadi. Belum habis keraguan saya, muncullah dua anak kecil dari bawah dengan membawa banner resmi penunjuk arah milik panitia berwarna kuning. Mereka bermaksud memasangnya pada raceline merah. Saya pun bertanya "Ini arahnya kemana?" "Langsung aja om, yang paling kanan" jawabnya. Karena mereka membawa banner resmi, saya langsung saja percaya. Saat itu saya juga sempat bilang "Kalau begitu seharusnya posisi pita ini lebih rendah supaya jalur paling kiri tidak diterobos masuk." Kemudian saya memotret tempat ini dan melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalur paling kanan.
Dua orang anak kecil yang memasang tanda penunjuk arah di pita merah.
Jalur ini ternyata membawa saya pada turunan tajam dengan berm berliku menuju jalur gap selebar kurang lebih 2.5 meter! Saya langsung mengerem dan mengamati. Di ujung seberang sana berdiri belasan anak-anak meneriaki saya "Ayo om..kacangan (payah nih)..gak usah direm.." Diantara mereka ada satu wanita, rider juga, sedang duduk dan memotret di area ini. Saya pun bertanya "Benarkah jalurnya lewat sini?" "Ya, memang lewat situ, atau kalau ngga bisa, sepedanya diturunin aja lewat samping."
Aneh. Saya masih ingat pada saat briefing, panitia berkata jika seluruh jump ditutup untuk alasan safety, lalu apalah artinya itu jika jalur gap ini tetap dibuka? Saya pun turun dan memotret disini.

Rider kelas Superman satu persatu lewat. Bukan sesuatu yang berarti buat mereka. Namun ketika rider kategori lain tiba, ceritanya berbeda. Sebenarnya gap ini bisa dilewati hanya dengan sedikit hentakan, yang membuatnya sulit selain karena tidak adanya opsi chicken way adalah tampilannya yang dijamin bisa membuat rider panik..hehe..ditambah lagi bonus teriakan provokatif dari gerombolan anak-anak yang ada di sana.
Gerombolan anak-anak sedang menanti. Mereka mengharapkan para peserta untuk melintasi gap ini.
Superman lewat. Bagi mereka, gap semacam ini mungkin hanyalah snack ringan.
Rider yang mengambil jalur yang benar.
 Yang menarik, gerombolan anak-anak ini sangat aktif menyoraki rider yang akan melintasi gap. 'Payah..licik(pengecut)..gak wani(tidak berani)' kerap terdengar jika mereka melihat rider yang ragu. Tentu saja ini sedikit mengganggu konsentrasi rider. Sementara jika rider berhasil, mereka pun memberi applaus. Bisa jadi, sebagian dari rider yang melintasi gap ini adalah karena terpaksa. Hmm, mungkin inilah penyebabnya. Gap ini merupakan obstacle terbaru track TW. Saya baru melihatnya beberapa minggu sebelumnya di fb milik AndryAdy. Saya jadi berpikir, wajarlah anak-anak ini sangat mengharapkan tontonan yang menghibur dari situ. Memang obstacle tersebut terlihat sangat menarik perhatian. Jika saya adalah anak-anak itu, sayapun mengira disitulah jalur yang seharusnya dan berharap semua rider melintasinya.
Untunglah karena kesigapan panitia, jalurnya sudah kembali normal tidak lama setelah itu. Sempat ada seorang rider yang terjatuh tapi tidak sampai terluka parah.

Foto & Tulisan: Andy

Related

Unique Race 4995039193004120760

Posting Komentar

  1. Mwantapppp... selalu ada cerita di weeklybikers... hhehehe....

    BalasHapus

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item