Predator Park dan Coban Putri di Senin Pagi


Pada kesempatan ini saya bersepeda di hari yang tidak biasanya (Senin, 24/8/15). Pekerjaan yang belakangan ini sering jatuh di hari Sabtu dan Minggu membuat saya jarang bisa bergabung dengan teman-teman yang lain. Kebetulan jadwal kegiatan pada hari itu sedang luang maka saya memutuskan untuk berangkat meski sendirian. Rutenya adalah menuju Coban Putri. Saya berusaha berangkat sepagi mungkin dengan harapan tiba di tujuan dengan kondisi lokasi yang masih sepi.
Cuaca saat itu sangat cerah. Matahari memancarkan sinar berwarna kuning hangat. Saya berangkat melalui Pendem dengan suasana jalan yang masih lumayan sepi. Aktifitas yang banyak terlihat di sepanjang perjalanan adalah anak-anak berangkat sekolah dan orang yang berangkat kerja.
Slogan 'Ayo Kerja' yang diusung pemerintah terpampang jelas di banner besar setelah melewati krematorium. Mencoba anti-mainstream, saya pun memotret sepeda saya di sini mengikuti hashtag yang juga diusung komunitas Pedal Alas. #yanglainkerjakitagowes


Predator Fun Park

Di pertengahan tanjakan Tlekung saya berhenti sebentar. Teringat postingan terdahulu di tempat ini  bersama teman-teman pernah dilempar bangkai kadal oleh seorang yang kurang waras. Di saat yang sama pula kami berjumpa seorang bapak yang membawa bangkai ular. Saya juga masih ingat ketika itu di sana terdapat sebuah proyek yang sedang dibangun. Dan sekarang uniknya, proyek yang sudah terealisasi ini seperti melengkapi serangkaian cerita bersama binatang-binatang tadi, karena ternyata tempat ini bernama Predator Fun Park yang di dalamnya berisi ratusan buaya.
Gapura masuk Predator Fun Park.
Meski namanya terdengar seram, tapi tempat wisata yang baru saja resmi dibuka untuk umum tepat pada hari raya kedua Idul Fitri kemarin ini adalah wahana wisata  seperti pada umumnya yang ada di Kota Wisata Batu. Hanya luasan areanya saja yang jauh lebih kecil. Kebetulan saya bersama team kerja saya ikut mengerjakan foto untuk kebutuhan promosinya. Di dalam sini kita bisa memberi makan buaya, memancing ikan aligator, dan masih banyak lagi. Lumayanlah ini bisa menjadi alternatif tempat wisata sekaligus membantu memecah kemacetan yang ada di jalan poros menuju kota Batu.

Selanjutnya saya kembali mengayuh di tanjakan hingga tiba di bagian sebelum masuk ke percabangan jalan menuju Coban Putri. Saya menyempatkan berhenti untuk membeli beberapa potong pisang goreng di sebuah warung yang rencananya akan saya gunakan sebagai bekal nantinya ketika bersantai di Coban Putri. Di warung ini hp saya berbunyi. Seorang teman (Ropen) di ujung sana menanyakan posisi saya saat itu. “Gendeng lapo senin-senin mancal? gak ngantor a? Muduno ae wis saiki..” (Gila ngapain senin-senin mancal? tidak ke kantor kah? Turun aja sekarang).
Warung tempat saya membeli pisang goreng.

Off road ke Coban Putri.

Jalur offroad ini relatif pendek sekitar 2 km. Tanjakannya yang terlihat biasa ternyata lumayan terjal. Permukaan tanah yang kering dengan sedikit tertumpuk debu juga membuat sepeda terasa lebih berat untuk dikayuh.
Singgah di salah satu spot dengan view terbaik.
 Di tengah sepinya jalur menuju coban terlihat mobil jip tua pengangkut rumput terparkir di tengah jalur sementara petaninya entah sedang berada dimana. Body jip ini sudah tampak reyot tapi penampilannya tersebut malah membuat saya tertarik untuk berhenti dan berfoto selfie.


Tiba di Coban Putri.

Akhirnya tiba di sini. Tempatnya masih sunyi sepi dan sejuk sesuai seperti yang dibayangkan. Sayang air terjunnya tidak sederas biasanya dan sungainya terlihat dangkal. Saya mulai menyantap bekal dan bersantai di bawah air terjun sambil membuka sejumlah notifikasi whatsapp yang masuk. Salah satunya adalah dari Ropen yang kembali menanyakan posisi terakhir saya.  Kesempatan, saya langsung menata sepeda di bebatuan sungai, memotretnya, dan mengirimnya.  Ini bagian yang paling saya suka. Manas-manasin…hehe
Benar saja, Ropen yang saat itu sedang berada di rumah Indra bersama Fahmi dan Jable kabarnya merencanakan gowes dadakan keesokan harinya.
Tempat nyemplung dan bermain air itu sekarang kondisinya seperti ini di musim kemarau.

Aliran air terjunnya juga sedang malas-malasan.

Dompet yang nyaris hilang.

Selanjutnya saya meluncur pulang dan tiba di tempat kerja Pk 9.30. Baru saja saya duduk dan meng-upload data aplikasi strava kegiatan tadi tiba-tiba hp saya berbunyi. Guru sekolah TK anak saya mengatakan jika seseorang menemukan dompet milik saya di hutan. Dompet itu sekarang tersimpan aman di rumah orang tersebut di Desa Ndeles, Oro-oro Ombo. Dengan heran, saya pun menengok ke arah tas slingshot yang tadi saya pakai dan terlihat zipper-nya memang terbuka. Dompet itu sudah tidak ada di sana. Saya pun berpikir pasti dompet itu terjatuh gara-gara keteledoran saya terlalu asyik selfie di mobil jip tadi.

Lalu kenapa guru TK yang menelpon?

Sungguh orang yang menemukan dompet saya ini amatlah jujur dan baik hati. Bapak itu adalah seorang pencari rumput. Beliau membongkar isi dompet mencari sesuatu atau nomor kontak yang bisa dihubungi hingga dia menemukan kwitansi pendaftaran sekolah TK anak saya. Di sana tertera nomor telepon sekolahnya, selanjutnya pihak sekolah tersebut mencari nomor saya melalui arsip kantor. Semua dilakukan dengan sangat cepat bahkan sebelum saya menyadari jika dompet saya telah hilang.
Terima kasih banyak buat Bpk. Sagino dan Ibu Sutik, desa Ndesel, Oro-oro Ombo.



(Tulisan: Andy)

Related

story 6096325321207451592

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item