Narotama Riders, Pos Kripik dan Track 1 Jengkal.


Kota Malang dikelilingi gunung dan perbukitan. Tak heran apabila pendaki dan para riders sepeda gunung semakin banyak, baik dr kalangan remaja sampai orang tua yang berjiwa muda. Kelompok kelompok riders sepeda gunung juga semakin bertambah meski hanya sekedar hobby non atlet.

Saya dan Narotama Riders.

JJ (nama beken saya) bergabung dengan kelompok sepeda di kampung. Narotama Riders (NR), nama kelompok ini diambil dari nama jalan perumahan kami. Tetangga sekitar sangat senang bersepeda, baik itu di jalan raya maupun di hutan dan gunung. Awalnya saya ikut bersepeda disebabkan cedera MCL lutut dan disarankan oleh Phisioterapy untuk tiap minggu bersepeda dan berenang. Lambat laun di ajak ke coban Tangkil, Jabung kab. Malang (letaknya diatasnya coban Jahe) lalu beralih ke gunung Renggo yang tidak jauh dari perumahan kami, wilayah Tajinan kab. Malang. Ini disebabkan sudah banyak track yg di lalui oleh motor trail. Maklum pemula kalau ada jejak motor kebanyakan nyungseb karena ada selokan ditengah (nge-rel).

Start.
Minggu pagi meluncur ke pos pojok NR (mabes)  riders sudah berkemas, memakai jersey kebanggaan kami yg di sponsori oleh Injers dan NB-17 catering ready menuju Mt. Renggo yang telah di survei. Start dari Lap. Rampal menuju perum Dirgantara Permai sampai ke Dam Sungai di daerah Rolak. Menyusuri tepi sungai yang kami juluki Kali Bokong (banyak bokong org mandi di sungai) hingga belakang Gor KenArok. Kami memang tidak berniat melewati jalan aspal. Selanjutnya berhenti di tugu Napaktilas pejuang dan berlanjut hingga ada warung yang ditengah jalan paving.
Tugu napak tilas pejuang.


Masih pagi kami pun berlanjut menyusuri tepi barat sungai hingga tidak bisa lagi menyusuri tepiannya, kemudian berbelok ke kanan melewati jalan aspal hingga menemukan jalan ke kiri di dekat pangkalan ojek depan lapangan bola. Dari sana berbelok ke kanan dan melakukan doa sebelum melewati makam. Selanjutnya adalah perkampungan dengan jalan aspal yg rusak, kami tetap lurus melewati perempatan dan tanjakan hingga bertumu aspal lagi dan berhenti di Pos kamling bambu.

Pos Kripik.

Disini warga sekitar sangat baik dan mempersilahkan untuk memakan makanan ringan di pos tersebut. Kripik singkong kami icipi. Kami beri nama pos itu dengan nama 'pos kripik'. Konon temen2 yang sering kesini bercerita jika di sini selalu ada kripik. Pos kripik ini jarang di lewati oleh pecinta gowes karena mereka kebanyakan mengambil belokan ke kiri tetapi intinya sama bertemu di pos doreng setelah tanjakan.
Berisitirahat di 'Pos Kripik'.
Keripik yang menurut ceritanya selalu tersedia di pos.
 Perjalanan kami lanjutkan dengan suasana pedesaan yang sejuk bertemulah simpangan pertigaan. Kebanyakan riders belok ke kiri yang sampe pada persawahan di atas mata air. Kalau tidak salah penduduk sekitar menyebutnya Sumber Dumpul. Banyak yang salah arti bahwa itu adalah kolam alami Njenon.

Sumber Dompul.

Selanjutnya kami mengambil ke arah kiri lalu mengitari persawahan hijau kemudian melewati jembatan besi yang cukup berbahaya.  Sedangkan yang lurus (pertigaan) menemui turunan rockgarden.. melewati jembatan kecil dengan sudut nya sangat lancip. Banyak yang bablas karena terlambat rem. Sampe di aspal menuju kiri dan menyusuri sebelah kanan sungai sedangkan yang mengambil jalur kiri(pertigaan)tadi menyusuri kiri sungai. Pada intinya sama dan bertemu di ladang tebu yang panas. Disinilah mental kita di uji.  
Jembatan besi yang dilewati.
Kami menyebrang  jalan raya lalu menyusuri sungai kecil dan sampelah di desa. Jalannya beraspal,  membelok ke kanan lalu masuk ke arah timur melewati pembuatan batu bata yang masih tradisional. Masyarakat yang ramah menyapa kami, seolah olah memberikan semangat baru ketika menyusuri tanjakan jalan desa itu. Banyak anak-anak kecil menyoraki kita untuk lebih bersemangat melalui tanjakan. Sebelum masuk ke hutan kami sempatkan beristirahat di tanah yg agak luas
Beristirahat di tempat yang agak luas.
Setelah istirahat yang dirasa cukup, maka helm kaos tangan dan beberapa atribut yang tadi sempat di lepas di persiapkan lagi.  Masuk ke arah timur, jalannya sangat nyaman berupa tanah kering yang sangat cocok di lewati. Kami agak susah menceritakan lebih detail di daerah ini, yang jelas kami terus bergerak ke arah timur sampai akhirnya menemukan track turun. Ini yang kami sukai, meski pendek tapi seru. Begitu jalan yang mulai bisa dilewati truk untuk panen tebu berujung di pertigaan, kami tetap mengambil jalur yang ke timur hingga bertemu jalan berbatu (makadam), kemudian ke kiri sampai bertemu aspal dan posisi di atas sumber air alami yakni Njenon. Dari aspal itu membelok ke kanan yang finisnya di atas kolam alami Njenon.
Kami menamakan Njenon Water park . Hehehe.

Sumber air alami Njenon.
 
Berenang, mengisi perut dan tidak lupa memberi makan ikan yang konon katanya bila mengambil ikan di tempat itu akan di hantui untuk segera mengembalikannya. Tetapi memang lebih indah bila melestarikannya bukan untuk di konsumsi.

Serunya belum berakhir. Petualangan masih ada yakni menyusuri setapak diatas sungai yang bersumber dari Njenon tadi. Single Track yang menantang begitu menarik. Sampai menemukan jalan aspal. Kami pun belom mau pulang dengan lewat jalan aspal. Kami menemukan jalan kecil membelok kekanan yg menuju sungai kecil . Sangat sejuk meskipun agak siang. Gowes di tepian sungai yg bening airnya sangat menyenangkan. Sampailah di bawah jembatan besi yang menuju desa Pajaran. Penduduk setempat menamakannya jembatan peller.
Tiba di jembatan Peller
Kami masih penasaran juga dengan setapak ini. Jadi kami tak menuju desa Pajaran atau melewati jembatan itu melainkan lanjut ke arah barat melalui setapak. Track yg memaksa kami untuk fokus karena lebarnya cuma 1jengkal. Kalau di luar sana ada track 5 cm yang populer, di sini kami namakan track 1 jengkal karena memang sangat kecil tertutup rumput dan semak hehehe..... Serunya lagi sampai menemukan pohon kelapa yang menjorok ke track. Butuh konsentrasi agar tidak terperosot.

Tantangan terakhir yakni menyebrang sungai dangkal. Airnya jernih dan sungai yang penuh kerikil ini masih bisa dilewati sambil mengayuh. Biasanya kami melewati satu persatu dan menunggu teman yang lain menyebrang dengan mengayuh pedalnya.  Setelah itu kami melewati kampung dan melihat patung kuda di sisi kiri yakni pertigaan patung Pangeran Diponegoro. Kami beristirahat dan bercerita pengalaman track 1 jengkal barusan di warung nasi langganan kami. Setelah itu kami pun meluncur pulang. Minggu depan rencananya kami kesana lagi karena sangat seru. Gowes yang di bumbui rekreasi dan saya rasa tidak banyak yang pernah melewati jalur jalur offroad ini dengan bersepeda. Serunya track Mt. Renggo , Njenon Waterpark dan track 1 Jengkal. Silahkan di coba.

Penulis & Fotografer: JJ

Related

story 6322524292970732327

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item