Berurusan Dengan Reptil.

Minggu, 5 April 2015.

Berangkat PK. 7.00, kami berencana mengunjungi Coban Cilik. Saya bersama Indra, Anas dan Handa start dari daerah Blimbing menuju Batu melalui Jl Akordion. Semula kami mengayuh santai beriringan sebelum muncul 'niat buruk' Handa untuk mematahkan catatan waktu saya di Strava ketika memasuki segmen Perempatan Akordion - Pertigaan Pendem. Menggunakan sepeda polygon CX 29”, dia pun mengerahkan tenaga meninggalkan kami bertiga pada segmen tanjakan berjarak 5 km ini.

Bunglon yang menumpang.
Sementara itu secara berurutan saya, Anas dan Indra mengayuh dengan kecepatan sedang. Tepat ketika di daerah belakang Unmuh, seekor bunglon dari rerumputan melompat dan menempel pada down tube sepeda saya. Bunglon yang semula saya kira dedaunan itu terlihat lucu. Untuk sementara saya membiarkannya berada di sana sambil terus mengayuh, namun suara gemrincing pada frame aluminium ternyata cukup mengganggu. Saya pun melihat kebawah dan betapa terkejutnya, bunglon itu sudah berada pada seat tube di antara kedua kaki saya yang mengayuh dengan posisi kepala menghadap ke saya seperti bersiap menyerang. Posisinya hanya beberapa cm saja dari selangkangan. Menyeramkan. Spontan saya melompat turun dan mengikuti saran Anas untuk menghentakkan sepeda di rerumputan, barulah dia melompat turun. Fiuuhh...

Tak lama kemudian kami juga tak sengaja bertemu Pak Arief yang mengayuh sendirian di pertengahan segmen ini dan setelah itu kami berhenti di pertigaan Pendem. Di sana Handa sudah menunggu sambil menyodorkan catatan waktu terbarunya 15 menit 11 detik atau 36 detik lebih cepat dari waktu terbaik saya sebelumnya. Hmmm…
Pak Arief (kaos biru) yang sempat bergabung dan berpisah lagi setelah di pertigaan Pendem.
Di depan Taman Buaya.
Setelah cukup beristirahat, kami berpisah dengan Pak Arief yang kembali pulang dan  perjalanan dilanjutkan melalui krematorium hingga tiba di pemberhentian berikutnya yaitu di pertengahan tanjakan desa Tlekung, tepatnya di depan sebuah proyek yang sedang dibangun. Menurut keterangan, di situ akan dibangun Taman Buaya. Tidak jelas apakah nantinya di situ berupa tempat penangkaran atau hanya sekedar namanya yang demikian.
Tepat di seberang jalan itu sedang dibangun Taman Buaya.
Di sini kami beristirahat agak lama. Bersamaan dengan itu, datanglah seorang ibu pengemis yang sepintas terlihat (maaf) kurang waras. Anas memberinya selembar uang 2000 rupiah dan dia pun berlalu menuju warung yang berada persis di sebelah kami. Sama seperti tadi, dia juga mengharapkan pemberian. Bedanya para pelanggan warung itu seperti sudah biasa dengan kehadirannya dan menyuruh ibu itu pergi. Dia pun kembali berjalan turun dan tiba-tiba melemparkan sesuatu tepat di depan kami yang sedang duduk beristirahat. Prak! Kami sempat saling bertanya sebelum tersentak kaget ketika mengetahui benda itu adalah bangkai kadal. Sial! Kami melihat ibu tadi sudah berdiri di seberang jalan menatap ke arah kami sambil tertawa terkekeh. Andai dia orang yang waras, mungkin kami akan melempar balik dengan batu.
Inilah Ibu yang melempar bangkai kadal pada kami dan sempat dipotret oleh Handa.
Yang lucu, hanya berselang sekian detik dari kejadian itu, muncul seorang bapak berjalan di kejauhan dari arah belakang ibu itu dengan membawa bangkai seekor ular yang dijepit menggunakan kayu. Kami pun kembali was-was jika ibu itu juga akan mengambil dan melemparkannya pada kami. Ibu yang sudah puas tertawa itu mulai beranjak pergi dengan perlahan membalikkan badan dan tak sengaja  momennya pas berhadapan dengan bangkai ular yang dibawa bapak tadi. Dia pun berteriak kaget dan melompat...
ULAR vs KADAL. Ini bapak si pembawa bangkai ular, sedangkan Ibu pelempar bangkai kadal yang juga sempat histeris tadi terlihat pergi menjauh.
Coban Cilik = Coban Putri?

Setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali. Tidak ada satupun dari kami yang pernah mengunjungi Coban cilik. Informasi yang kami tahu hanyalah letaknya yang berada di bawah Coban Rais. Kami terus mengayuh hingga bertemu dengan papan penunjuk arah bertuliskan 'Coban Putri’. Entah benar atau tidak tapi sepertinya arahnya sudah cocok. Mungkin coban putri inilah yang dimaksud coban cilik. Singkat kata, kami berbelok di percabangan itu hingga akhirnya tiba di sana.
Tanjakan dengan permukaan tanah yang tak rata menuju Coban Putri.
Setelah menempuh kurang lebih 1,5 km dari percabangan tadi, akhirnya sampailah kami di Coban Putri.

Natalie dan para volunteer asal Amerika.

Tempatnya tidak terlalu luas tapi terlihat bersih dan lebih sepi pengunjung. Yang mengherankan malah terlihat sekelompok wisatawan asal Amerika  berada di sana. Selanjutnya kami berkenalan dan berbincang  dengan 2 orang dari mereka hingga akhirnya kami mengetahui jika mereka adalah para volunteer yang baru 2 minggu tiba dan akan berada di Indonesia selama 2 tahun. Sehari-hari mereka mengajar bahasa inggris di SMP dan SMA. Lalu kami mengajak mereka berfoto bersama. Dua orang ini adalah wanita, yang satu bernama Natalie bersama satu orang lagi temannya yang berparas asia. Sayangnya hanya Natalie yang bersedia difoto sementara temannya enggan tampil di depan kamera. Meski begitu, dengan senang hati dia menawarkan diri untuk menekan tombol shutter.
Untuk menjamin foto ini tidak disalahgunakan, Handa mengenalkan website ini pada mereka dengan maksud untuk menjelaskan jika foto ini hanyalah bagian dari cerita perjalanan. Semoga mereka membacanya.



Penulis: Andy
Fotografer: Handa

Related

story 282468245517947687

Posting Komentar

  1. kalau disebut coban cilik ... gede juga ya ....
    btw ... coban-nya indah dan tidak ramai .. asyikk untuk dikunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama sebenarnya Coban Putri. Disebut coban cilik karena ada coban-coban lain yang lebih gede di atasnya. Yang ini ada di posisi paling bawah & paling kecil tapi asyiknya malah paling sepi & paling alami.

      Hapus

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item