Berangkat Kepanasan Pulang Menggigil

Minggu, 25 Januari 2015.

Masih edisi on road, saya bersama Vicky dan Handa menuju Gunung Banyak di hari yang sama ketika teman-teman kami yang lain berada di Cangar. Rute ini berbeda dengan rute sebelumnya (Sumber Maron) yang berkontur datar karena kali ini arahnya ke barat dengan tanjakan lebih terjal dan jarak total yang lebih pendek (49 km pulang pergi). Kami berangkat amat kesiangan (Pk 8.15) dengan cuaca yang terik. Karena diprediksi bakal cerah, kamipun tidak membawa terlalu banyak perlengkapan dan mengira bakal tiba di rumah siang hari.

Alasan ke Gunung Banyak.

Ada event keren yang sedang berlangsung di sana bernama Art & Music Camp Fest 2015. Ini adalah acara komunitas seni dimana mereka mengadakan pameran sekaligus camping selama 2 hari berturut-turut (Sabtu & Minggu) lengkap dengan live musik menyajikan sejumlah band independent yang cukup dikenal macam Screaming Factor, The Morning After, dan banyak lagi.


Perjalanan dimulai.

Seperti biasa, kami mengayuh melewati Jl. Candi Panggung hingga tiba di pos pertama pertigaan Pendem. Keringat mengucur deras hanya dalam tempo 20 menit efek dari berangkat kesiangan ditambah lagi tidak ada diantara kami bertiga yang sempat sarapan. Syukurlah ketika sedang beristirahat ada penjual gado-gado gerobak berada tepat di depan kami. Sedikit tambahan energi untuk bekal melawan panasnya cuaca. Sambil kami menyantap makanan itu, Handa mengusulkan untuk mampir di rumahnya di Batu karena dia memperkirakan kita akan tiba di sana sekitar waktu menjelang dhuhur. Tawaran yang menarik karena timingnya pas kita bisa bersantai di rumahnya sebelum menghadapi tanjakan berat menuju Gunung Banyak.

Gado-gado gerobak. Jika anda sedang beristirahat di pertigaan Pendem, dia ada di seberang. Depan indomaret persis.

Perjalanan Pendem - Batu.

Kami mengayuh melalui tanjakan jalan utama menuju Batu dan sempat berhenti sekali untuk mengatur nafas. Vicky langsung menjauh di depan sementara Handa dan saya mengayuh beriringan.
Handa ketika mengatur nafas di pertengahan perjalanan. Rider asli Batu ini ternyata belum pernah sekalipun bersepeda menanjak ke Batu.
Hanya beberapa puluh meter setelah melewati gapura kawasan Batu kami tak sengaja berpapasan dengan teman kami Fuad bersama seorang lagi temannya yang turun dari arah berlawanan. Kami berbincang sebentar dan ternyata mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan rute Malang-Cangar.
Bertemu Fuad (paling kiri) dan temannya.
Sementara itu, Vicky sudah jauh tak terlihat di depan...

Cerita Vicky.

Mungkin ini adalah cerita langka tapi nyata yang pernah terjadi ketika bersepeda. Setelah dari pertigaan Pendem, Vicky langsung mengayuh dengan cepat di tanjakan menuju Batu. Kira-kira di sekitar daerah Beji dia berhenti di tepian jalan sambil menunggu saya dan Handa yang tertinggal lumayan jauh di belakang. Di saat menunggu sendirian itulah, datang seorang pria seumuran 40 thn mengendarai motor Honda Vario warna hitam. Awalnya dia hanya menanyakan lokasi Jl Welirang. Setelah Vicky mengatakan tidak tahu, dia mulai berbasa-basi menanyakan hal-hal yang tidak penting seperti daerah asal Vicky dan semacamnya hingga ujung-ujungnya menawarkan sebuah pekerjaan yaitu sebagai penjaga rumah sekaligus sopir buat tantenya. Vicky dengan sopan menolak dan berterus terang jika saat ini dia sudah bekerja tapi berjanji akan memberikan info tawaran tersebut pada temannya jika ada yang membutuhkan. Selanjutnya orang itu meminta no telepon dan Vicky memberinya tanpa merasa curiga.

Semua berubah menjadi tak wajar ketika kami baru saja sampai di rumah Handa. Orang tersebut mengirim sms menanyakan tentang pekerjaan tadi dan sekali lagi Vicky menolaknya. Kemudian sms selanjutnya menjadi lebih tak wajar lagi:
“Mas, kalau nanti ketemuan bisa gak? Mau gak mas dibooking tante? ntar dibayar kok..” (sms dari bpk itu)
“Maksudnya apa Pak?” (balas Vicky masih tak paham).
“Mau gak muasin tante ntar dibayar 1 juta?”
…….??!

Vicky memilih untuk tidak membalasnya namun orang itu terus membombardir dengan sms-sms lanjutan yang tulisannya sudah tidak pantas lagi ditulis di sini.
Ada ada saja.
Apa mungkin mengayuh cepat di tanjakan bisa dijadikan parameter ‘bisa muasin’?
Haha

Di rumah Handa.


Anyway, akhirnya tiba juga kami di sini. Hawanya sangat sejuk. Bapaknya Handa terlihat sedang berkebun di depan rumah dan menyapa kami. Selanjutnya di sini tubuh kami seperti disegarkan kembali dengan jamuan makan siang yang sedap bikinan ibunya hingga tak terasa waktu mulai menunjukkan Pk. 13.00.
Jamuan makan siang buatan sang Ibu. Fresh from the kitchen.
Perjalanan ke Gunung Banyak via Bukit Klemuk.

Langit di luar mulai gelap. Meski begitu kami memperkirakan hujan belum akan turun sehingga kami tetap pada rencana untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Banyak kecuali Vicky yang harus turun kembali ke Malang disebabkan harus masuk kerja. Saya dan Handa memprediksi jika semuanya lancar setidaknya Pk.15.30 kami bisa kembali ke Malang.

Setelah berpamitan, saya dan Handa langsung menuju Gunung Banyak melalui Songgoriti. Tanjakan yang paling terjal ada di sini tepatnya di Bukit Klemuk. Kami melakukan shifting hingga rasio gir yang paling ringan, mengayuh dengan sedikit zig-zag  hingga roda depan sesekali terangkat saking terjalnya. Jika diukur, mungkin kecepatan saat itu tidak jauh berbeda dengan orang berjalan kaki. Kami juga sempat menuntun sepeda di beberapa titik karena kehabisan nafas.

Tak berapa lama tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat yang memaksa kami berhenti dan berteduh di sebuah warung. Sialnya kami memang tak membawa jacket/raincoat. Secangkir kopi panas menjadi ide bagus ketika harus duduk diam dan menunggu lama di tengah hujan lebat dan hawa dingin. Kami tertahan di sini sekitar 1 jam.


Setelah lewat 1 jam, hujan tampak mulai reda meski belum bisa dikatakan berhenti. Kami nekad melanjutkan perjalanan karena waktu sudah menunjukkan Pk 15.00. Masih tersisa waktu 1,5 jam karena bila lebih dari itu kami bakal pulang kemalaman tanpa penerangan. Ya, satu lagi kesalahan adalah tidak membawa lampu.
Setelah melewati semua tanjakan, akhirnya kami mulai memasuki kawasan Gunung Banyak. Semangat kembali pulih ketika beberapa tenda sudah mulai kelihatan dan dari kejauhan terlihat mobil dan motor berjejer di lahan parkir.
Mendekati titik terakhir di Gunung Banyak, jalannya mulai off-road.
Awalnya kami mengira kami adalah satu-satunya pengunjung yang menggunakan sepeda sebelum akhirnya kami berjumpa dengan seorang goweser yang turun dari atas. Menggunakan sepeda touring, penampilannya mengingatkan akan film dokumenter ‘the man who cycled the world’ yang saya lihat di you tube. Lengkap dengan keranjang di kiri,kanan dan depan. Sayangnya saya tak bisa memotret karena hujan belum reda. Lalu kami berhenti dan dia mulai menyapa.

“Dari mana mas?”
“Malang” jawab Handa sambil ngos-ngosan
“Lagi sepedaan atau emang mau lihat festival?” tanyanya lagi.
“Ya mau lihat festival ama sekalian aja sepedaan..”
Umumnya jika orang lain mendengar jawaban ini dalam hati mungkin akan bilang 'kurang kerjaan’, tapi entah kenapa dia terlihat seperti biasa-biasa saja.
Kemudian Handa balik bertanya: “Kalau mas sendiri mancal dari mana?”
“Kepanjen.”

Oh, pantas…

Tiba di Art & Music Camp Festival.

Gunung Banyak biasa juga disebut Paralayang (memang tempat ini adalah tempat wisata paralayang). Di sinilah tujuan terakhirnya. Hujan rintik masih turun disertai kabut. Kemana mata melihat yang tampak adalah orang-orang menggunakan jacket ataupun raincoat sementara kami terlihat seperti orang yang salah kostum mengenakan selembar t-shirt basah kuyup dengan badan menggigil.
Titik ini adalah tempat penghobi paralayang melakukan 'take off'.
Kami langsung mengunjungi tenda pameran. Jalannya sangat becek dan licin. Banyak sekali orang terpeleset dan bahkan saya sendiri juga sempat mengalami tapi sepertinya itu malah membuat event ini lebih unik. Sayangnya, live musik yang saya tunggu-tunggu ternyata belum dapat dimulai karena hujan belum sepenuhnya reda.
Gerbang masuk lokasi.
Permukaan tanah yang licin dan becek.
Suasana di dalam tenda-tenda pameran.
Tak lebih dari 1 jam kami berada di sana. Selanjutnya kami bergegas pulang karena khawatir kemalaman dan tiba di rumah Pk. 17.15.



Tulisan: Andy
Foto: Handa, Andy

Related

story 6806848421862701798

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item