Berkubang di Coban Tengah


Sepertinya ini menindaklanjuti postingan beberapa minggu sebelumnya (Coban Tengah), bedanya di kegiatan bersepeda akhir minggu ini kita bertekad mengunjungi spot air terjunnya sekaligus berendam di sana. Coban Tengah adalah wisata air terjun yang bisa dibilang baru dibuka untuk umum. Untuk mencapai ke sana adalah masuk melalui gerbang  Coban Rondo dan selanjutnya jalannya akan bercabang. Karena masih baru, tempatnya masih lumayan bersih  dan hari itu sedang tidak terlalu ramai. Rombongan pramuka/sekolah adalah satu-satunya pengunjung lain selain kita dan teman-teman dari komunitas Gowes Jelajah yang kebetulan mengambil lokasi bersepeda dengan rute yang sama.
Pintu masuk kawasan Coban Tengah. Tempat parkirnya tidak terlalu luas.
Diberi nama Coban Tengah karena letaknya berada di antara Coban Rondo dan Coban Manten. Jalan menuju ke sana masih berupa tanah yang diratakan. Mobil pick-up yang mengangkut kami terus bergerak hingga berhenti di pintu masuk Coban Tengah. Dari situ kita mulai mengayuh kurang lebih 1 km menuju air terjun. Jalannya berkelok-kelok menyeberangi sungai dan melintasi jembatan kayu. Di beberapa titik, sepeda harus dibopong karena jembatannya hanya berupa 2 batang kayu.
Jalan menuju spot air terjun.

Sempat beberapa kali menyeberangi sungai melintasi jembatan. Di sisi lain ada yang hanya berupa batangan kayu sehingga sepeda harus digotong.

Penampakan lokasi Coban Tengah.

Rombongan Pramuka yang tiba bersamaan dengan kami.
Salah satu teman kita, Bejo, terlihat yang paling menikmati kegiatan hari ini.
Momen ketika baru saja tiba. Di saat teman-temannya masih berkumpul, dia sudah terlebih dulu duduk menyendiri pada spot dengan view terbaik sambil menikmati rokok elektrik rasa lemon.
Mungkin menurutnya teman-teman yang lain terlalu lambat, dia juga yang turun pertama kali dan ber-selfie ria.
Merasa kurang puas, seorang teman (Indra) pun dipanggil turun untuk memotret di depan titik jatuhnya air. Aksinya ini menarik perhatian 2 orang siswi pramuka yang mengintip dari balik batu..hehe
Setelah itu barulah semuanya berhamburan turun..

Membersihkan diri setelah beraktifitas. Teori ini tidak lagi berlaku (paling tidak untuk hari ini) karena semua kecuali saya langsung nyemplung dan berendam meski temperatur air di situ luar biasa dinginnya. Semua terlihat asyik menyibukkan diri bercanda tawa dan sengaja melupakan sejenak rute panjang penuh debu yang masih menunggu setelah ini. Satu lagi yang terlupa, terlalu asyik berendam ditambah dengan dinginnya temperatur air ternyata langsung diikuti dengan rasa lapar yang spontan muncul, padahal kita bahkan belum mulai mengayuh..hehe
Di kawasan tersebut juga nampak gua yang letaknya sedikit tinggi dan membuat saya penasaran ingin mengeksplor ke sana.
Komunitas Gowes Jelajah yang terlebih dulu tiba sebelum kita. Kami langsung berbaur dengan mereka. Terima kasih Gojel Rangers atas suguhan  kopinya.. (Fotografer: Anom Harya)
Setelah tuntas berendam, perut mulai terasa lapar. Masih ada waktu untuk duduk mengobrol di sini sambil menunggu rombongan pramuka tadi berjalan kembali ke gerbang masuk.

Rombongan pramuka satu persatu mulai berjalan kembali ke pintu masuk hingga suasana yang mulai hening tiba-tiba dipecahkan gelak tawa ketika Yopi dan Antony menyampaikan tips 'Pemakaian kamera GoPro secara optimal untuk menghasilkan karya seni'..

Selanjutnya barulah perjalanan yang sebenarnya dimulai. Kita bergerak menuju Coban Rais mencari semangkuk bakso langganan.

Rumah-rumahan dari kayu itu sepertinya disediakan untuk kegiatan camping lengkap dengan tempat perapian di depannya. Saya juga belum tahu apakah nantinya bakal disewakan atau digratiskan.

Perjalanan selanjutnya sama persis dengan beberapa minggu kemarin. Debu tebal juga masih ada di sana sini.

Semua berjalan lancar kecuali rantai sepeda saya yang sempat putus.

Debu yang tebal tergambar jelas dari wajah Mario yang berlepotan. Rider-rider yang lain juga bernasib sama.
Sayangnya rencana untuk break di Coban Rais batal karena si penjual bakso langganan sedang libur. Kami pun langsung meluncur turun dan memilih menu nasi urap jagung di daerah Sengkaling sebagai penutup kegiatan akhir minggu ini.

Begitulah ceritanya, sekaligus seklumit perjalanan ini kami dedikasikan buat teman kami Hilmi yang baru saja dikaruniai anak keesokan harinya. Selamat!

Tulisan & Foto: Andy

Related

story 8775396008193389388

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item