3 Hari Bersama Pitts Jakarta


Minggu kemarin kami berempat (Indra,Antony, Pak Arief dan saya) berkesempatan memandu rombongan rider dari Jakarta yang berjumlah 16 orang. Mereka datang ke Malang untuk mencoba track Dingklik, Ngadirejo, Tutur-Welang dan Kemiri dimana keseluruhan track tersebut dimainkan 3 hari berturut-turut pada tanggal 26, 27, 28 Sept 2014. Komunitas sepeda asal Jakarta ini memiliki nama yang cukup unik yaitu Pitts Uluuk-uluuk. Menurut ceritanya, Uluuk-uluuk adalah istilah yang mereka gunakan jika hendak menyalip rider yang ada di depan. Jika para atlit menggunakan kata “track” ketika menyalip, disini mereka terbiasa menyerukan “uluuk-uluuk” dengan cara pengucapan sedikit mirip suara hewan. Bisa jadi ini ada kaitannya dengan gambar musang yang terpampang di desain jersey-nya.

Jumat, 26/9/2014. Tutur-Welang

Diawali dengan penjemputan rombongan menggunakan 3 kendaraan MPV di bandara Abdulrahman Saleh. Pesawat tiba Pk. 09.00 dilanjutkan menuju rumah makan rawon Brintik untuk sarapan sekaligus briefing tentang kegiatan yang akan berlangsung selama 3 hari. Karena ini adalah hari Jumat, selepas dari sini kita langsung check-in di hotel kemudian melaksanakan sholat Jumat. Setelah itu barulah kita memulai rangkaian kegiatan yang pertama yaitu bersepeda di track Tutur-Welang. Untuk sepeda sendiri diberangkatkan terpisah menggunakan truk dari Jakarta yang kemudian dipindahkan ke 2 buah mobil pick-up dari Surabaya dan langsung menuju ke hotel El di Karangploso.
3 buah mobil MPV disiapkan untuk membawa rombongan berjumlah 16 orang.

Pk. 10.00. Sarapan sekaligus briefing tentang kegiatan yang akan berlangsung selama 3 hari disampaikan oleh Indra di rumah makan Rawon Brintik.
Hotel El. Tempat kita menginap. Lokasinya berada di Karangploso.

Untuk hari yang pertama ini, kegiatannya lebih diutamakan untuk bersepeda ringan dan berfoto ria sekaligus penyesuaian dengan rute karena diperkirakan rombongan masih sedikit lelah setelah menempuh perjalanan dari Jakarta.
Pk. 13.30, kita menuju Desa Tutur dari hotel tempat kita menginap.
Suasana di titik start Tutur-Welang. Perjalanan ini dipandu langsung oleh Antony (kaos oranye) di posisi terdepan, berikutnya di sela-sela rombongan adalah Indra, saya dan Pak Arief yang bertugas sebagai sweeper.

Selanjutnya para rider langsung meluncur.

Foto bersama ketika berada di puncak tanjakan.

Mayoritas rider dari rombongan mampu melintasi handicap di rumah getah dengan mudah.

Namun ada salah seorang rider yang belum tuntas dengan settingan sepedanya hingga berakibat seperti ini.
Di pertengahan rute permukaan tanahnya dipenuhi oleh dedaunan kering musim kemarau yang membuat perjalanan ini sedikit licin.

Cuaca sore itu sangat mendukung, sinar matahari kekuningan menerobos di sela-sela pepohonan.

Di antara 16 orang terdapat 2 rider wanita.


Di akhir perjalanan, seorang rider mengalami sedikit insiden ketika melakukan drop off. Landing yang kurang sempurna menyebabkan sepeda tak terkontrol dan menabrak sebatang pohon. Beruntung tak ada cedera serius tapi kabel rem di sisi kiri handle bar patah hingga minyaknya meluber keluar. Sepeda akhirnya dibawa ke Semut Ireng bike shop malam itu juga untuk direparasi.
Aktivitas bersepeda hari itu berakhir kurang lebih Pk. 17.00. Rombongan kembali ke hotel sementara Antony & Indra menuju Semut Ireng bikeshop yang telah berbaik hati memenuhi permintaan kita untuk tetap membuka tokonya meski waktu itu sudah saatnya tutup.

Sabtu, 27/09/2014. Dingklik-Ngadirejo-Tutur-Welang

Hari yang kedua ini adalah yang terberat. Selain jaraknya terpanjang, untuk mencapai lokasi start di Dingklik juga memakan waktu hampir 3 jam. Terlebih lagi debu di sepanjang Dingklik-Ngadirejo benar-benar menggila.
Dimulai dengan sarapan di hotel Pk 06.00. Rencana berangkat menuju Dingklik Pk. 06.30.
Tiba di titik bongkar muatan sepeda di Dingklik setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih.

Formasi D'Pitts dengan latar belakang kawasan wisata Bromo.


Ada yang beda ketika melintasi track Dingklik. Asupan debu melimpah ruah layaknya hidangan penutup sarapan.

Jarak antar rider di sini lebih dijaga karena bila terlalu dekat, rider di bagian belakang dipastikan tak bisa melihat apa-apa karena terhalang debu.



Memakai masker adalah sesuatu yang wajib di sini dan akan lebih baik lagi jika mengenakan kacamata.


Tepat setelah kami menyelesaikan rute Ngadirejo, sepeda saya mendapat masalah. Kawat shifter pada RD putus. Kita berhenti untuk santap siang di salah satu warung di Nongkojajar sambil mencari cara agar sepeda saya tetap bisa dipancal. Akhirnya Antony memutuskan untuk memotong rantainya dan menjadikan sepeda ini fixed gear. Semula sepertinya aman-aman saja namun ternyata sepeda ini kembali bermasalah ketika digowes di track Tutur-Welang. Rantai yang kendor & RD yang terguncang ternyata merembet ke masalah lain ketika terkena hentakan di sepanjang track. Entah mengapa QR pada freehub sudah tidak bisa lagi menancap di dudukannya yang menyebabkan roda belakang seperti akan terlepas. Karena khawatir, sayapun lebih banyak menuntunnya sejak di pertengahan rute.


Warung Barokah, tempat untuk break makan siang di Nongkojajar sebelum melanjutkan perjalanan ke Tutur.
Rombongan yang telah finish akhirnya terlebih dulu kembali ke hotel sementara saya masih berada di hutan dan meminta kendaraan pickup untuk sabar menunggu.
Lagi-lagi kita membuat repot bengkel Semut Ireng. Sepeda saya, Antony dan Indra masuk di sini menjelang maghrib. Kabel shifter sepeda saya yang patah ternyata juga menular ke sepeda Antony, sementara sepeda Indra hanya diservis ulang supaya tetap dalam kondisi terbaik sebelum dibawa ke Kemiri esok hari.

Minggu, 28/09/2014. Kemiri.

Inilah rute yang terakhir. Tidak terlalu jauh tapi memiliki porsi tanjakan lebih banyak. Mayoritas jenis sepeda yang digunakan rombongan ini adalah sepeda untuk kategori downhill yang otomatis juga susah diajak menanjak. Lebih banyak berfoto dan bercanda adalah beberapa cara untuk mengalihkan perhatian dari beratnya tanjakan.

Suasana titik start di rute Kemiri. Kita tiba Pk. 07.30. Untuk mencapai kesini para rider harus rela berjalan sejauh kurang lebih 50 meter karena tidak terdapat tempat parkir kendaraan roda 4 yang layak di sini.

Berfoto bersama di sela-sela tanjakan.

Rider berbaju kuning ini sedang berjuang melewati tanjakan menuju titik tertinggi rute Kemiri diiringi teriakan dan tepukan semangat dari rekan-rekannya yang ada di bawah.

Tanjakan barusan ternyata tidak sia-sia karena terbayarkan oleh view yang didapat dari atas sini.
 Selanjutnya adalah melewati single track curam dengan permukaan seperti anak tangga.

Rock garden adalah handicap terakhir sekaligus tanda berakhirnya track di Kemiri.
Seluruh agenda kegiatan bersepeda resmi berakhir di sebuah kedai di Singosari. Es campur dan soda gembira ini ibarat media untuk melakukan selebrasi.
Akhirnya perjalanan di track Kemiri ini berakhir tepat waktu. Kita tiba di hotel Pk 12.00 sesuai rencana. Selanjutnya adalah membersihkan badan, check-out dan rombongan bertolak ke bandara Juanda Surabaya Pk. 14.00. Semoga mereka menikmati 3 hari yang baru saja mereka lewati di kota Malang.
Terima kasih Pitts, sampai jumpa lagi lain waktu!
Uluuk-uluuk...

Foto dan tulisan oleh: Andy

Related

story 1352683255828175841

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item