Air Terjun Sumber Pitu


Setiap Jumat usai beribadah Isya, kami bertemu untuk membicarakan rencana mancal sepeda pada hari minggu. Mancal sepeda ben dino minggu (nggowes setiap hari minggu),  rutinitas yang dilakukan oleh komunitas Suropati Nggowes (Surgo). Untuk hari Minggu (31/08/2014) kami nggowes ke Sumber Pitu.

Sekilas Sumber Pitu

Sumber Pitu merupakan sumber air yang berada di Desa Duwet Krajan, desa paling ujung timur dari Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Dari Kota Malang berjarak 27 KM ke arah Timur. Desa ini berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Lokasi ini mulai terkenal sejak dimuat pada salah satu koran yang mengulas tentang beberapa air terjun di Malang Raya, salah satu yang diulas adalah Sumber Pitu.

Air Terjun Sumber Pitu. 
Sumber Pitu berada di dasar lembah yang curam, dikelilingi oleh tebing hingga 40 meter tingginya. Air langsung keluar dari rekahan-rekahan tebing tersebut, jatuh ke permukaan dengan debit cukup besar 1.200 hingga 1.600 liter per detik. Saat kami mengunjungi Sumber Pitu, sedang ada proyek dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Malang untuk dibendung dan disalurkan ke Malang. Disamping sumber pitu terdapat air terjun Ringin Gantung yang tingginya sekitar 40 meter di atas permukaan tanah.

Di lereng lembah dan bukit sekitar Sumber Pitu ditanami berbagai tanaman sayur mayur dan buah buahan. Sangat pas dikelola sebagai wisata agro dan wisata alam, dengan obyek perkebunan sayur dan Sumber Pitu. Semoga warga dan pemerintah daerah berkolaborasi membangun wisata yang baik. 

Perjalanan


Persiapan di markas Suropati Gowes


Pukul 6 pagi lebih sedikit, kami ber 13 mulai mancal. Dari Jalan Suropati (Kota Malang) kami melewati Kelurahan Cemoro Kandang, Desa Slamet (Kecamatan Tumpang), bertemu di Jalan raya Tumpang (depan Stadion Tumpang). 

Suasana pagi hari di Jalan Raya Cemoro Kandang yang membelah persawahan.



Kemudian masuk ke jalan Ronggowuni (Candi Jago) sampai ke perempatan Tumpang (Jalan Pahlawan), kemudian kami mengambil ke arah Timur (jalur ke kawasan TNBTS) menuju Desa Wringin Anom (Poncokusumo). Dari perempatan ini jalan aspal mulai menanjak. Pemandangan mulai berbeda, sebagian besar di kanan kiri jalan merupakan kebun buah apel, jeruk, tomat dan sayuran. 

Jalan yang baru diaspal di Desa Slamet, Tumpang
Sampai pertigaan di Desa Wringin Anom kami belok ke arah Utara (kiri) menuju ke Desa Duwet Krajan. Di pertigaan ini terdapat petunjuk arah menuju Duwet Krajan dan terdapat baliho kecil tentang Sumber Pitu. Jalan naik turun didominasi dengan tanjakan.

Jalan mulai menanjak di jalur Tumpang - Poncokusumo. Kebun Tebu dan Jeruk banyak dijumpai di jalan ini.
Sampai di Balai Desa Duwet Krajan, kami mengambil jalan masuk menuju Sumber Pitu. Dari sini sekitar 2 KM lagi menuju Sumber Pitu. Jalan yang dilalui adalah jalan setapak naik turun berdebu melewati kebun-kebun sayur-sayuran yang dikelola oleh warga.

Menuntun sepeda di tanjakan jalan beraspal Desa Duwet Krajan.
Lagu dari Power Metal dinyanyikan ole grup band lokal dalam rangka 17 Agustusan di Desa Duwet Krajan.
Pemandangannya terbuka, minim pohon-pohon besar, sebagian besar kebun yang dikelola oleh warga. Saat siang cukup terik panasnya. Kemudian turunan curam hingga sampai ke Coban (Air Terjun) Ringin Gantung. Dan disebelahnya adalah lokasi Sumber Pitu. Saat ini sedang ada pengerjaan bangunan untuk membendung air (PDAM Kabupaten Malang). 

Di kursi bambu dan di bawah rerimbun pohon bambu, kami beristiahat sejenak sambil menikmati pemandangan.
Melewati perkebunan sayur, sepeda kami tuntun pada tanjakan di jalan tanah berdebu di punggungan bukit .
Coban Ringin Nggantung mengucapkan selamat datang setelah menuruni lereng yang curam.
Capung ini hampir semua badannya berwarna biru metalik, kecuali sayap yang lebih gelap. Mempunyai nama Vestalis luctuosa (Burmeister, 1839) dan berkelamin jantan. Hidup di perairan jernih sungai dari Coban Ringin Gantung.


Wisatawan di atas bangunan PDAM dengan latar sumber-sumber air yang keluar dari rekahan tebing. Ya ini yang namanya Sumber Pitu, namun sayang bangunan itu mengurangi pemandangan eksotis di Sumber Pitu. 
Wisatawan sedang mandi di salah satu mata air yang keluar dari rekahan tebing.
Pipa karet diameter 1 meter, dengan pipa ini nantinya air dari Sumber Pitu akan disalurkan ke Malang.
Bagaimana lonjoran-lonjoran pipa besar dan berat itu bisa sampai di jalan setapak yang kecil dan curam itu?
Menurut pekerja proyek PDAM pipa itu digotong manual oleh 2 - 4 manusia!
Sumber ini bagai oase. Semoga kawasan hutan tetap terjaga, agar mampu menyimpan air ke bawah permukaan tanah dan keluar menjadi mata air yang bisa mengalirkan air memenuhi kebutuhan alam dan manusia.


Tulisan dan Foto oleh Bung Roim alias Imron Fauzi (Copyleft)






Related

story 2372166649681088965

Posting Komentar

  1. Balasan
    1. Pak Ilham, njenengan sudah ada di http://www.weeklybikers.com/2014/09/gowes-jabung-finish-sego-empok.html

      Hapus
  2. Ok Pak Ilham, kalau gowes lagi, tak pasang fotone sampeyan :)

    BalasHapus

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item