Terjebak Dalam Labirin.


Pagi itu (Minggu 24/8) selepas subuh, hawa kota Malang sedang dingin-dinginnya. Seperti biasa saya bermaksud membuat teh tarik panas dengan terlebih dulu menyalakan kompor di dapur. Sayangnya, yang saya dapatkan justru gas elpiji yang mendadak habis di waktu yang kurang tepat. Untuk beberapa saat saya sempat kebingungan akan beraktivitas apa. Kuintip anak saya juga masih terlelap dan saya sengaja tak ingin mengganggu tidurnya di hari Minggu. Akhirnya pandangan tertuju pada sepeda yang ada di garasi, kondisinya sedikit berdebu karena jarang dipakai sejak lebaran kemarin. Ya, sepertinya bersepeda bisa jadi solusi yang pas buat menghangatkan tubuh sekaligus sebagai pengganti teh tarik tadi. Kuperiksa grup whatsap AM weekender yang biasanya ramai tapi entah kenapa hari itu sepi-sepi saja. Selanjutnya kucoba mengontak rekan saya Fahmi yang ternyata juga berhalangan karena akan ada rapat pertemuan RT. Akhirnya kuputuskan untuk berangkat sendiri. Waktu masih menunjukkan Pk 5.45, waktu yang masih ideal untuk segera bergerak. Sebuah kamera, sebotol air mineral ukuran tanggung & 2 butir onde-onde masuk ke dalam tas sebagai bekal.
Rute yang direncanakan adalah ke arah Timur, desa Pakis hingga berujung di Bandara Abdulrahman Saleh. Jaraknya pulang pergi kurang lebih sekitar 30 km. Konturnya lumayan datar dengan variasi tanjakan dan turunan yang landai. Permukaannya hot mix, batu makadam dan tanah kering.

It’s time to smash the pedals..

Saya langsung menuju perumahan Araya melalui Jl. Teluk Grajakan. Yang membuat penasaran adalah area paling belakang perumahan tersebut yang saat ini sedang dalam pengembangan. Sepuluh tahun yang lalu saya pernah melihat masterplan perumahan ini dan arah pengembangannya memang ke arah timur di mana di pusatnya terdapat fasilitas rumah sakit dan kompleks perkantoran yang spektakuler. Sangat luas hingga nantinya ada jalan tol yang melintasi perumahan. Sayangnya, ketika saya sudah berada di batas belakang dan hendak memasuki area yang sedang dikerjakan di sana berdiri seorang satpam. Area tersebut sepertinya dikondisikan steril walaupun jalan / infrastrukturnya sudah mulai terbentuk. Hal itu membuat saya berpikir untuk mencari cara lain dengan masuk melalui sisi yang berbeda karena saya ingat banyak sekali jalan tikus menuju ke sana yang bisa dimasuki melalui ladang sambil ber- offroad ria..
Jalan di bagian belakang perumahan Araya yang sudah separuh jadi. Pada plang jalan di ujung depan itu ada persimpangan. Jika lurus, disitulah proyek yang sedang berjalan. Saya memilih belok ke kiri.
Perjalanan Off-road dimulai

Hanya sekejap setelah keluar dari dinding pembatas perumahan Araya, pemandangan yang tersaji langsung berubah kontras. Mobil-mobil perumahan yang tadinya berlalu lalang berganti menjadi sepeda onthel, hunian bergaya eropa menjelma menjadi rumah khas pedesaan, pengusaha dengan gaya kantoran juga mulai hilang dan yang nampak adalah pekerja pembawa rumput ataupun petani tebu yang mulai bermunculan. Sungguh luar biasa melihat  bagaimana dua pemukiman dengan gaya hidup bertolak-belakang bisa hidup berdampingan dengan hanya dipisahkan jarak setebal tembok.

Sebenarnya sudah lama sekali saya tak kemari, tak ada jalur yang benar-benar saya hafal. Tipe jalur yang berada di sela-sela ladang dengan tanaman jenis tebu yang tinggi membuat bersepeda disini seperti berada dalam labirin. Semuanya hanya berdasar naluri tebak jalur sambil sesekali bertanya pada orang yang ditemui. Buat saya cara macam ini kurang efektif dilakukan sendirian karena hasilnya saya berkali-kali nyasar..haha. Banyak jalur yang terlihat meyakinkan justru menjebak. Jalan yang sudah jelas terdapat jejak ban truk pun bisa saja buntu.
Memasuki jalanan off road

Truk ini berhenti tepat menghalangi jalan. Saya memanjat di sebelah kiri dan kanan terdapat ladang tebu yang lebat dan ada dinding seng yang sengaja dipasang untuk membatasi daerah ini dengan proyek perumahan. Satu-satunya jalan adalah tempat truk itu berhenti. Saya pun putar balik.
Petani pembawa rumput. Salah satu tempat bertanya yang diandalkan.

Tersesat yang kedua kali. Daerah ini sangat sepi dan jalannya bercabang. Saya dihadapkan pada dua pilihan yang dua-duanya tidak meyakinkan. Suasananya membawa trauma memori 5 tahun silam ketika nyasar di jalur dengan dedaunan lebat nan gelap sambil dikerubuti nyamuk seukuran jumbo. Tak mau ambil resiko, saya kembali putar balik.
Suatu ketika saya menikung di percabangan jalan di ladang, masih dalam usaha tebak jalur. Tiba-tiba saya berhadapan dengan sekelompok orang, tua, muda & beberapa anak kecil yang membawa pancing. Mereka duduk berkerumun di sekeliling kolam buatan (kolam renang dari plastik yang biasa dipompa angin) seukuran 1,5 x 1 meter. Mereka seperti terkejut ketika saya yang sekonyong-konyong muncul di sana. Pandangannya jelas tak ramah. Sebagian diantara mereka setengah berbisik tapi saya bisa cukup jelas mendengarnya “sstt..tunggu, awas ada orang..”. Saya pun menjadi salah tingkah dibuatnya karena mereka mendadak serentak menghentikan aktivitasnya. Selanjutnya yang saya lakukan adalah berpura-pura membetulkan tali sepatu sambil mata berusaha melirik ke sana. Semua mata orang-orang itu mengarah ke saya. Kolam dengan ukuran sedemikian kecil dikerumuni oleh orang dan alat pancing sedemikian banyak. Apa yang membuatnya menarik? Untunglah selang beberapa detik ada seorang bapak berjalan dari arah belakang saya, juga sambil menenteng alat pancing. Saya mulai bertanya “Pak, apa jalan yang saya lalui ini bisa tembus?” “Bisa mas, ikuti saja tapi jalannya kecil..”katanya. Belum sempat menjelaskan lebih lanjut, bapak di kolam pancing dengan ketus memotong “Tidak bisa, jangan lewat sini. Di sini banyak tebu roboh nutupin jalan, lewat sana saja”  Kalau sudah begini alih-alih ambil gambar, dari mimik muka mereka saja kemunculan saya seperti kurang diterima. Akhirnya saya lagi-lagi putar balik..

Selanjutnya saya pilih jalur ‘utama’ yang aman-aman saja karena intinya saya ingin menuju bandara Abdulrahman Saleh secepatnya. Di daerah yang sepi saya sempat beristirahat sejenak, menyantap sebutir onde-onde sambil menyalurkan hobi memotret apapun yang ada di sekitar situ. Kurang lebih 15 menit barulah kembali melanjutkan perjalanan. Oya, di tempat itu juga saya baru teringat untuk mengaktifkan aplikasi strava guna merekam jejak.

YUMMY! Dua butir onde-onde yang kubawa sebagai bekal. Di sini saya hanya menyantap satu saja.

Salah satu hasil jepretan iseng ketika beristirahat.

Kembali melanjutkan perjalanan. Dari sini saya sempat sekali lagi mencoba memotong jalur. Hasilnya, lagi-lagi nyasar di ladang tebu yang buntu.
Akhirnya, tibalah saya di daerah perkampungan. Senang rasanya kembali bertemu dengan aktifitas ‘kehidupan’. Di situ nuansa hari kemerdekaan masih terasa karena bendera merah putih di mana-mana masih terpasang. Selanjutnya jalan di perkampungan itu menuntun saya menuju Bandara Abdulrahman Saleh.
Suasana perkampungan setelah keluar dari area off road.
End Point.

Yang terakhir, saya tiba di jalan masuk menuju bandara. Suasananya masih sepi. Suara guratan ban Kenda Nevegal di permukaan aspal hot mix terdengar sangat dominan seperti suara mesin. Saya mengayuh hingga ke terminal bandara dan kembali lagi keluar. Selanjutnya langsung kembali pulang di bawah terik yang menyengat. Waktu menunjukkan Pk. 10.35.
Jalan keluar masuk di bandara. Saya sempat berhenti disini karena teringat masih ada sebutir onde-onde terakhir yang bisa dilahap untuk mengapresiasi pencapaian di titik ini. Alhamdulillah :)
Detail jejak bisa dilihat di sini
Terima kasih. Semoga tulisan ini memotivasi,
Salam.

Tulisan & Foto : Andy


Related

story 8800005926810240205

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item