Survivor Series

Terinspirasi dari acara televisi yang memiliki judul yang senada, menceritakan sekelompok orang mencoba bertahan di suatu pulau terpencil dengan peralatan seadanya dan ransum terbatas, dan mengandalkan kemampuan bertahan hidup agar bisa melanjutkan hidup. Tapi yang kami lakukan tidak se-ekstrim itu, inti kegiatan kami adalah PERSAMI BIKE CAMPING, yaitu setiap peserta wajib membawa sepeda gunung, dan peralatan yang mereka perlukan untuk menghabiskan waktu mulai hari sabtu malam sampai dengan hari minggu siang.

Kenapa disebut Survivor Series? Jawabannya adalah kami mau merutinkan aktifitas Night Ride (NR) yang biasanya hanya dilakukan setahun sekali di bulan puasa, menjadi sebulan sekali, ditambah dengan kegiatan BIKE CAMPING (BC) yang bagi para pesertanya adalah hal yang masih sangat baru. Pilihan tanggal jatuh pada 23-24 Agustus, dan track yang dipilih adalah NR: Tutur Welang – BC: Tunggangan (Kemiri).

Dan uniknya ketujuh peserta disini bervariasi baik dari umur, kegemaran, sifat, skill bersepeda, skill aktifitas outdoor, komunitas, tapi semua satu kegemaran yaitu NRBC. Sabtu, 23 Agt 2014, pukul 20.30 para peserta mulai berkumpul di titik kumpul pertama, yaitu Ruko Sukarno Hatta Indah, Malang.

 Setelah semua persiapan selesai, dan peraturan dasar disini adalah every man for himself, yaitu mulai dari ransum, dan perlengkapan, sebenarnya tagline ini hanya mengingatkan para peserta agar mempunyai persiapan yang baik, menghadapi dingin, rasa lapar, dan rasa lelah. Maka berangkatlah kami untuk melakukan bagian pertama yaitu NR Tutur Welang. Start jam 22.45, NR ini diselesaikan dengan cepat dan tidak banyak berhenti. Jam 23.45 di tempat finish, sepeda segera di naikkan kembali ke pick up untuk bersiap loading ke lokasi BC Tunggangan.

                  Jam 00.30 kami sempatkan berhenti di dekat Masjid Nongkojajar untuk mengisi perut, sebagian peserta dan sopir sudah kelaparan dan kedinginan, dan menu yang tersedia adalah bakso, lumayan untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan.
Setelah kenyang dan merasa cukup hangat, kami melanjutkan perjalanan lagi ke lokasi BC Tunggangan, dan setelah 30 menit perjalanan, sampailah kami, dan dingin yang kami rasakan di nongkojajar tidak ada apa apanya, di spot Watu Pecah, kabut tebal, angin dingin kencang berhembus, segera semua peserta memakai jaket, memasang buff, glove, untuk menghangatkan diri. Benar benar kontras dengan track NR Tutur Welang tadi. Dan tanjakan 2KM menuju lokasi BC diharapkan bisa membantu menghangatkan badan yang mulai gemetar.
Melanjutkan perjalanan dengan melahap tanjakan sejauh 2 km menuju spot untuk bike camp.
2KM tanjakan yang biasanya kalau siang hari dilalui dengan penuh siksaan, dan cuaca yang panas, terasa berbeda sekali apabila di lalui pada dini hari, kabut yang tebal membuat lampu LED hanya memberikan jarak pandang 1m, dan iseng saya mencoba matikan lampu saya, dan GELAP GULITA. Track yang basah dan licin karena embun menambah serunya perjalanan ini. Dan tidak lama sampailah kami di titik BC, titik yang dipilih adalah lokasi yang dimana banyak pohon untuk menggantungkan HAMMOCK, istilah ini baru saya dengar kali ini, maklum saya bukan pendaki gunung.
Memasang hammock dan berusaha tidur setelah sampai di lokasi.
Berbagai cara untuk beristirahat dilakukan, dan yang berpengalaman, bisa mendapatkan spot terbaik, dan istirahat terbaik, bagi yang tidak berpengalaman, seperti saya, tidur setengah tersadar, terkena hembusan angin, terkena embun jatuh yang dingin, terasa lebih baik tidak tidur, tapi rasa lelah berhasil menidurkan saya kurang lebih 1 jam. Dan tidak terasa pagi pun menyambut, malam yang gelap gulita, angin yang dingin, embun yang jatuh, berganti dengan sinar matahari yang hangat, udara yang segar, dan terang yang akrab di mata.
Suasana pagi di tempat kami bermalam.
Setelah sarapan dan membereskan semua perlengkapan kami, termasuk membawa sampah dan tidak meninggalkannya di lokasi BC. Kami pun melanjutkan perjalanan ke titik finish, fisik kami yang belum pulih 100% meski sudah beristirahat dan sarapan membuat kami turun dengan sedikit berhati hati, tidak secepat biasanya. Apalagi bawaan kami pun 2x lipat biasanya, menjadikan tantangan tersendiri turun membawa tas punggung yang besar. Tidak lama sampailah kami di titik finish Pasar Dengkol, Singosari, tanpa insiden sama sekali.
Suasana ketika bersiap pulang.  Kita berkemas dan tidak meninggalkan sampah.
Segera setelah semua peserta sampai di titik finish, semua sepeda segera di naikkan ke pick up, dan menuju rumah masing masing peserta, tidak terasa lagi dingin, basah, yang ada hanya kering, panas, tapi hati senang meskipun fisik capek, sekali lagi ini baru seri pertama, akan ada seri seri selanjutnya, dan disitulah saya berencana untuk memperbaiki cara bertahan hidup saya. Sampai jumpa di SURVIVOR SERIES II (COBAN RONDO-COBAN RAIS-GUA JEPANG-PARANGTEJO). Salam.

Tulisan & Foto oleh: Christian Antony

Related

story 959421516824306264

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item