Kisah Mistis Segmen Makam Keramat




Night ride kali ini bisa dibilang dadakan. Jika beberapa rekan yang lain melakukan night ride di lokasi lumayan jauh seperti Tutur Welang, Bedengan dan Bukit Panderman, kita justru memilih lokasi yang dekat saja yaitu Oma Campus – Tegalweru. Tujuannya jelas untuk menghemat waktu. Misi awalnya adalah untuk menikmati bulan yang diprediksi akan berbentuk lingkaran penuh di spot favorit di titik tertinggi Tegalweru, sekaligus menyongsong final piala dunia yang akan digelar pada Pk 02.00 dinihari. Walaupun lokasinya tergolong dekat ternyata night ride ini tidak semudah yang dibayangkan. Mengapa?

Begini ceritanya…





Minggu, Pk. 22.00. Berkumpul di rumah Bung Ropen, kita berlima: Indra, Vicky, Handa, Ropen & saya (Andy) bersiap melakukan night ride. Semua jenis lampu dipastikan
terpasang dengan baterai yang baru. Sebuah kamera mirrorless & tidak ketinggalan sebuah kompor mini portable juga ikut mengisi ransel perlengkapan kami. Selanjutnya perjalanan dimulai dengan mencari minimarket terdekat guna mengisi perbekalan yang rencananya akan disantap di spot yang dituju. Dua bungkus indomie, kopi dan sekotak biskuit sepertinya cukup buat kami berlima menghabiskan waktu di atas sana.

Mengisi perbekalan di Indomaret.

Dari sini kita mulai menanjak hingga pertigaan pabrik rokok Sangkar Mas dan berhenti sejenak di sana sambil mengatur nafas. Cukup 5 menit saja, mulailah kita memasuki area yang gelap dengan kontur tetap menanjak. Jalannya masih beraspal dengan area ladang di sisi kiri dan kanan. Indra & Vicky mulai lepas lumayan jauh di depan sementara saya & Handa menemani Bung Ropen yang menggunakan penerangan paling minim (head lamp yang bisa dibilang redup). Tak berapa lama kita berhenti karena Ropen mengeluhkan nafas & staminanya yang cepat terkuras disebabkan kadar oksigen malam hari yang tipis. Kita pun kembali beristirahat di tengah jalan sementara Vicky dan Indra sudah jauh tak terlihat di depan.

Bung Ropen terengah-engah di pertengahan tanjakan.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan, kita bertemu lagi dengan
Indra & Vicky di pertengahan jalan yang menanjak. Posisinya kurang lebih
sekitar 400 meter sebelum memasuki area yang disebut makam keramat (istilah ini
diambil dari nama segmen yang ada di strava karena terdapat makam dengan pohon
yang besar di sebelah kiri). Kita beristirahat dan minum beberapa teguk air
sambil berbincang-bincang. Saya kembali mengeluarkan kamera meski kondisi di
situ gelap gulita. Dengan bantuan head lamp & lampu yang menempel pada
handlebar saya mulai memotret. Iseng saya meminta bung Ropen untuk mencoret
atau menulis pesan atau apapun menggunakan lampu hp. Maksud hati adalah membuat foto menggunakan teknik yang dalam fotografi biasa disebut dengan light painting. Ketika saya mulai menghitung 1,2,3..bung Ropen berkata “Zoro!” sambil berusaha membuat huruf Z menggunakan hp-nya. Tapi anehnya, yang tertangkap pada kamera adalah huruf G. Kita hanya tertawa kemudian kembali mengayuh memasuki segmen makam keramat. Tak ada yang menyangka jika G ini nantinya
merujuk pada Germany, si jawara Piala Dunia 2014 yang baru akan melangsungkan
laga finalnya beberapa jam lagi melawan Argentina..hehe




Bulan purnama yang diharapkan ternyata tak kunjung muncul, yang ada justru rintik hujan mulai turun membasahi bebatuan makadam yang membuat ban sepeda kita seringkali sliding tak terkontrol. Kita melintas perlahan di depan areal pemakaman. suasananya sungguh gelap gulita, hawanya dingin & bisa dibilang sedikit seram. Indra berada paling depan disusul saya, berikutnya berturut-turut Handa, Ropen dan Vicky. Diperkirakan kita hanya berjarak 50 meter lagi untuk tiba di spot yang dituju, namun tiba-tiba terdengar suara anjing melolong di kejauhan disertai gonggongan yang membuat suasana berubah mencekam. Kita berhenti & terdiam. Suara anjing tersebut terasa makin lama makin dekat sementara kita sama sekali tak bisa melihat wujudnya dan tak tahu dari arah mana dia datang. Semuanya gelap. Wah, tanpa sempat berpikir panjang kitapun segera memutar balik sepeda & mengayuh turun secepat mungkin. Hujan rintik serasa lebat jika digowes dengan kecepatan tinggi & membuat mata tak bisa leluasa memandang, ditambah lagi jalur bebatuan yang basah ini sepertinya tak juga mau akrab dengan jenis ban yang kita pakai. Kita pun mengayuh terbirit-birit sambil sliding berlepotan kesana kemari. Bahkan Handa di depan sempat nyaris nyelonong ke dalam parit. “Aku paling gak sukak kalau ada anjing!” seru bung Penthol bersungut-sungut sambil menyalip saya dengan geram. Bagaimana tidak, gambaran yang sejak tadi ada di kepalanya tentang nikmatnya menyeruput kopi bersama bulan purnama sambil menerawang kelap-kelip lampu kota Batu harus lenyap seketika hanya karena raungan seekor anjing. Padahal kita tadi tinggal menyisakan beberapa meter lagi.

Selanjutnya kita tiba di pertigaan dimana percabangannya mengarah ke perumahan Graha Dewata. Sempat terpikir mencari tempat berteduh disana namun rencana berubah & kita sepakat untuk mengambil tempat di dekat perumahan Oma Campus. Turun lagi sekitar 400 meter & kita masuk areal off road hingga tiba di atas perumahan Oma Campus tepatnya di perbatasan akhir antara areal off road dengan perumahan tersebut.

Hujan kembali reda, tikar digelar di tempat terbuka dan perbekalan mulai dikeluarkan dari ransel. Saatnya bersantai melepas kepanikan barusan dengan menyeruput 2 gelas kopi panas & sekotak biskuit.

Minum kopi diterangi 2 batang lilin. Sweet!
View dari tempat kita membongkar perbekalan.

View dari sini adalah titik-titik lampu kota Malang & perumahan yang ada di bawah. Not bad. Rintik hujan muncul dan hilang bergantian tak beraturan hingga suatu ketika muncul satpam perumahan Oma Campus di bawah sana. Dia berhenti dan tak sengaja beradu pandang dengan kita
di kegelapan. Kita bisa melihatnya dengan jelas sementara kita yakin, satpam tersebut pasti melihat kita seperti sosok menyeramkan di atas bukit karena hanya sebuah lampu pada handlebar saja yang menyala. Satpam itu terus menatap keatas cukup lama tapi tampak ragu. Tak lama kemudian dia menjalankan motornya dan berlalu. Kita kembali tertawa lega.
Rintik hujan yang datang & pergi bergantian.
 Selanjutnya kita berkemas & bersiap pulang. Jalur yang diambil adalah turun melintasi Oma Campus. Rintik hujan lagi-lagi turun yang membuat kita kembali berteduh di depan sebuah warung yang tutup sembari berdiskusi.

Tempat kami berteduh sambil berdiskusi untuk menentukan arah selanjutnya.


Akhirnya tujuan berikutnya adalah warung Kayungyun, disana kami menyantap bubur kacang hijau dan teh limun panas untuk menghangatkan badan yang mulai lelah dan kedinginan. Tak terasa waktu telah menunjukkan Pk 01.00 dinihari. Satu jam lagi menuju final Piala Dunia. Kita akhirnya berpisah & pulang menuju rumah masing-masing.

Namun satu pertanyaan yang masih mengganjal di kepala..

Benarkah simbol ‘G’ yang ditulis Ropen menggunakan sinar lampu di sekitar segmen
makam keramat tadi adalah G for Germany?

Could be!



Tulisan dan Dokumentasi: Andy

Related

story 7904081232076975479

Posting Komentar

  1. ijin tak sematkan blog samean ndek blog rekomendasi sam, hehe
    http://kayuhanku.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. 24 agustus kosong sam , monggo lek nate ten cb brues, diaturi mowon kulo

      Hapus

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item