Perjalanan ke Bedengan

Bedengan, sebuah tempat camping ground yang berada di wilayah kabupaten Malang. Sering terdengar cerita pengalaman dari para rider yang pernah kesana bahwa rute nya cukup bagus disertai view yang menawan. Kita sebenarnya juga sering berencana untuk beramai-ramai bersepeda ke sana namun itu hanya sebatas wacana yang belum sempat terealisasi. Kali ini saya & Penthol bertekad menuntaskannya. Yang pertama dilakukan adalah membuka google map dan memastikan jalur menuju ke sana. Semangat sedikit surut ketika data elevasi di situ menunjukkan porsi tanjakan yang bakal dilalui akan sedikit menyiksa. Kita memutuskan perlu mengajak satu orang lagi yang berpengalaman dan bisa berperan sebagai guide. Ternyata tak perlu susah mencari, salah seorang tetangga Penthol dengan nama panggilan Gantrung adalah penghobi sepeda yang juga kebetulan rutin mengunjungi Bedengan sejak 2009. Intesitasnya pun bisa 2 kali seminggu kalau sedang luang. Dia berkata perjalanan ke sana hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam & suasana titik finishnya dijamin akan membuat kita selalu rindu untuk kembali. Semangat kita pun kembali pulih. Akhirnya, hanya berselang 3 jam setelah Real Madrid menuntaskan misinya atas Atletico di final Liga Champion, kitapun berangkat membawa misi kita sendiri..
TEGALWERU. Santapan sehari-hari bung Penthol. Dilewati dengan santai & mudah sembari mendengarkan tembang-tembang lawas Black Sabbath dari playlist MP4 nya.

Tugu ini adalah tanda berakhirnya tanjakan 'rute harian', biasanya kita belok ke arah Sumber Sekar, akan tetapi kali ini kita terus menanjak menuju Desa Selorejo.

Tiba di gapura Desa Selorejo. Meski perlahan, kita bertiga masih cukup segar karena mampu mengayuh non-stop hingga tiba di titik ini tanpa jeda.

Setelah minum beberapa teguk air, kita melanjutkan perjalanan. Bukan masuk melawati gapura melainkan belok ke arah kiri.

Rute yang masih baru pertama kali dilewati ternyata berpengaruh juga pada fisik. Penthol sudah mulai terlihat goyah &  sempoyongan ketika terus-menerus dihajar tanjakan yang sudut kemiringannya sadis. Beruntung ada anak-anak yang kebetulan berdiri di depan masjid itu terus memompa semangatnya sambil melambaikan bendera NU.

Ini adalah jalan pintas. Bosan dengan jalan aspal kita mencoba masuk di area off road tepatnya setelah melintasi jembatan. Ternyata ada single track lumayan menarik andaikata digowes dari arah kebalikan. Suasananya mirip dengan salah satu segmen rute Parangtejo.

DILEMA. Banyak kebun jeruk di kiri kanan tapi apa daya kita hanya bisa melaluinya sambil menelan ludah. Ini sepertinya adalah jeruk peras yang takutnya masih ada bekas semprotan hama.

Sempat sekali melintasi sebuah jembatan bambu ketika menyeberangi sungai.

Stamina mulai kendor. Tampak Penthol juga sudah mulai jauh tertinggal di belakang. Tanjakan di hamparan kebun jeruk ini adalah jalan aspal terakhir yang harus dilewati.

Akhirnya tiba juga. Kita sudah mulai memasuki kawasan wisata Bedengan meski menurut Gantrung, masih ada 3 km lagi menuju spot favoritnya.

Ada semacam pura yang menarik perhatian di seberang sungai. Dari bentuknya sepertinya ini bukan milik penganut Hindu. Kita sendiri tidak ada yang mengetahui pastinya.

Di sepanjang tanjakan ini adalah jalur off road dengan sungai di sebelah kiri (sebelah kanan rider). Inilah momen-momen menjelang akhir perjalanan menanjak.

MISI TUNTAS. Rasanya seperti menemukan tempat harta karun. Bongkahan batu tempat Penthol melepas jaket itulah tempat berbaring terbaik yang pernah ada. Ukurannya cukup luas untuk 3 orang sekaligus. Ternyata total waktu hingga tiba disini adalah sekitar 2,5 jam. Koordinat pastinya klik disini.

Foto spot yang sama dari sisi yang berbeda. Semua jerih payah tadi akhirnya terbayarkan. Penthol seperti menemukan kembali definisi tentang 'menikmati hidup'..

Satu-satunya kesalahan adalah tidak membawa bekal yang layak. Kita tidak bisa terlalu lama karena 3 botol air minum yang kita bawa telah habis & tenggorokan juga sudah kering. Akhirnya diputuskan untuk turun ke perkemahan tujuannya mencari sekedar pemanis lidah. Dalam perjalanan turun kita mampir di pura tadi karena ternyata di sana ada sumber air. Kita menyempatkan waktu mengisi botol-botol yang telah kosong.
Sampai di kawasan perkemahan, kita langsung menuju warung. Jeruk-jeruk segar yang dijumpai sepanjang perjalanan tadi ternyata tersedia juga di sini. Wajib buat dipesan.
2 gelas kopi, 1 gelas jeruk murni ditambah beberapa potong menjes goreng melengkapi perjalanan hari itu.

Sempat dikagetkan dengan kedatangan anak-anak Teater Pelangi yang tampaknya sedang berkemah di sana. Mereka berkeliling dengan dandanan seperti ini dengan harapan mendapatkan imbalan sebagai bentuk apresiasi atas seni yang mereka buat.
Hasilnya anak-anak ini mendapatkan banyak sekali buah jeruk dari para penjual. Lumayan. Selesai dari warung ini barulah kita mengayuh pulang.

Related

story 2944043296119473379

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item