Ketika Alumnus PALHISMA Melintasi Rute Tutur-Welang

Cerita berawal ketika alumnus dari PALHISMA, sebuah komunitas pecinta alam asal SMA Negeri 5 Malang yang konon telah berusia seperempat abad lebih ini sedang ingin mencoba sensasi  bersepeda di daerah yang masih alami. Kebetulan Bung Rony Penthol adalah salah satu alumnus sekaligus senior kelompok ini tanpa ragu merekomendasikan rute Tutur - Welang sebagai tempat terbaik. Singkat kata di hari Kamis bung Penthol mengajak saya bersama-sama mengenalkan rute ini pada mereka.
Kamis pagi, di sepanjang perjalanan menuju desa Tutur sering terlihat banyak road cyclist mengayuh di tanjakan. Jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang biasanya.

Situasi ketika baru saja sampai. Semua sepeda sudah diturunkan namun sepertinya ada yang janggal. Ya! 4 orang di antara mereka ini ternyata tidak membawa helm, semuanya juga tidak juga mengenakan protektor serta settingan sepeda yang belum disesuaikan dengan karakter track disini. Bahkan sejumlah orang mengenakan sandal. Awalnya terlihat biasa saja hingga rombongan demi rombongan lain berdatangan dengan sepeda yang mumpuni disertai perlengkapan & persiapan yang matang. Merekapun  terheran dan bertanya-tanya "Lho, disini tempatnya lintasan sepeda ya?" Hmm, sepertinya bung Penthol lupa menyampaikan intro ataukah sengaja ingin memberikan kejutan, haha..(andaikata benar, ini bisa jadi materi diklat yang membahayakan) yang jelas dia berpesan agar selalu berhati-hati & sebaiknya digowes perlahan saja mengingat jalur ini bakal basah bekas guyuran hujan. Intinya adalah tetap menikmati perjalanan.
Entah sudah berapa banyak rombongan riders berkostum lengkap menyalip kita dengan kecepatan tinggi, tapi hebatnya para alumnus PALHISMA ini tetap tenang & melewati satu persatu segmen track ini tanpa ragu. Tidak ada kesan grogi ataupun cemas seperti umumnya rider yang baru pertama kali kesini. Namun belum ada seperempat perjalanan, kampas rem depan salah seorang rider telah habis di salah satu sisinya. Di sini naluri untuk survive khas pencinta alam pun muncul. Tidak kurang akal dia menukar kampas di kedua sisi tersebut dan mendapatkan lagi sisa-sisa daya cengkram walaupun sudah pasti itu tidak akan bertahan lama. Perjalananpun dilanjutkan dengan amat perlahan.
Bertemu Antoni (baju merah) di ujung tanjakan. Dia terheran-heran & menanyakan ke bung Penthol "Kenapa tidak ada yang ber-protektor?" "Hehe..kita sedang berwisata.." jawab Penthol santai. (Foto: Palhisma)

Tempat yang dipilih untuk beristirahatpun terbilang unik. Mereka memutuskan berhenti untuk membuka perbekalan di lintasan dimana disana banyak pepohonan & tepatnya di sekitar landasan untuk jump. "Enak nih di sini, kita ngopi & bersantai sambil nonton orang-orang yang jumping..tahu begini kita tadi bawa hammock (ayunan buat tiduran yang diikat diantara 2 pohon)". Alasan yang masuk akal. Setelah semua sepeda dipinggirkan, kita semua asyik menyantap bekal sambil nobar di tepian lintasan. Entah benar atau tidak, kalau diperhatikan kehadiran kita di tepi lintasan itu ternyata justru menambah motivasi juga bagi rider yang lewat, mereka memacu sepedanya lebih kencang & melompat lebih beringas dari biasanya, bahkan tak jarang ada juga yang melompat sambil memamerkan skill yang cukup menghibur kita disini.
 Mereka juga punya trick untuk menjaga keutuhan rombongan yang tercetus spontan. Rider yang berada tepat di belakang saya & Penthol ini di sepedanya terpasang bel yang lengkap dengan kompasnya. Aturannya, bila bel diketuk satu kali berurutan adalah tanda kalau ada bahaya, kalau diketuk dua kali tanda ridernya sedang happy/tracknya aman & kalau tidak ada bunyi sama sekali berarti si rider sedang tertimpa musibah..hahaha
Masalah ransum tidak perlu dipertanyakan. Dari minuman JasJus hingga kopi panas semua lengkap. Ada satu kue yang ketika ditanyakan namanya tidak ada satupun yang bisa menjawab. Isinya seperti isi kue pastel yang dijepit dengan 2 roti marie kering. Selepas itu kita kembali berkemas & membersihkan kembali tempat ini. Namanya juga pecinta alam, di sepanjang perjalanan mereka juga meringkus setiap botol aqua bekas yang dijumpai.

Mendekati akhir rute, rider yang bermasalah dengan rem tadi tak kunjung tiba. Setelah sekian lama ditunggu barulah dia muncul sambil menuntun sepedanya. dia berkata kalau kampas remnya sudah terlepas. Semua upaya dicoba dilakukan termasuk melakukan kanibal dengan cara mengambil salah satu kampas dari sepeda milik temannya. Setelah melalui berbagai cara, akhirnya sepeda ini bisa melakukan pengereman meski hanya pada roda belakang saja padahal kita masih harus melalui single track berbatu dengan kontur menurun. Solusi terakhir yang diambil, Bung Penthol menawarkan untuk bertukar sepeda (dia mengendarai sepeda yang hanya menggunakan rem belakang) dengan pertimbangan dia yang paling paham dengan sisa jalur yang akan dilalui dibandingkan mereka yang lain. Syukurlah, tak berapa lama akhirnya kita finish dengan selamat. Para alumnus PALHISMA ini terlihat puas dengan perjalanan barusan. Mereka boleh saja tertinggal jauh oleh rombongan mountain bikers lainnya, tapi untuk urusan kekompakan & cara mengatasi masalah ketika dalam perjalanan sepertinya mereka masih berada di jajaran depan.
Masih saja ada halangan di perjalanan pulang. Kemacetan parah terjadi di daerah Purwodadi hingga Lawang yang mengakibatkan rombongan ini serasa dijemur di atas bak truk. Perjalanan hingga tiba di Malang memakan waktu hampir 3 jam.



Related

komunitas 2394163725525060077

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item