Minggu Yang Kurang Bersahabat

Sebagaimana biasanya, tawaran rute gowes sering didapat di hari-hari akhir menjelang minggu. Hari itu kebetulan ada 2 tawaran yang muncul lewat whatsapp dengan rute yang bersebelahan tapi temanya jauh berbeda. Komunitas Gowes Jelajah & Pedal Alas menuju Gunung Mujur menggunakan kendaraan loading, medannya full off road dengan presentase turunan yang lebih banyak sehingga akan membutuhkan skill ekstra. Sementara Antony menawarkan rute yang tidak biasanya, yaitu melahap tanjakan menuju Kebun Teh Wonosari tanpa menggunakan kendaraan loading. Rutenya pun sepenuhnya aspal (kecuali perjalanan pulang). Kebalikannya, di sini tidak membutuhkan banyak skill kecuali otot kaki & nafas yang harus lebih dipaksa. Hasilnyapun mudah ditebak, rute tanjakan ini lebih sepi peminat dibanding grup yang pertama. Praktis cuma Pak Arif, Yopi & saya yang menyambut tantangan Antony..hehe
Setelah bertemu di titik kumpul di Depo Bangunan, kita langsung menuju Singosari. Waktu menunjukkan Pk. 7.15.


Kita sempat bertanya penduduk disana ketika ada salah satu jalur yang ditutup disebabkan ada kegiatan. Dari Singosari, ini mungkin masih sekitar 30 % perjalanan.

Setelah itu adalah tanjakan,kemudian tanjakan & lagi-lagi tanjakan. Tampak Yopi ketika sedang  bersusah payah.
Akhirnya kami tiba di pos peristirahatan kurang lebih 500 meter sebelum gerbang Kebun Teh Wonosari. Antoni adalah yang pertama kali tiba disusul saya, sementara Yopi & Pak Arif masih berjuang di belakang. Di sinilah awal cerita, selang beberapa saat datanglah seorang bapak (sekilas terlihat seperti petani pada umumnya yang membawa celurit). Dia menyapa kita & duduk bersama sambil meminta rokok. Antoni mencoba ramah dengan memberikan sebatang rokoknya & singkat kata merekapun bercengkerama. Mungkin sekitar 10 menit barulah Antony & saya mulai kaget & sadar kalau percakapan ini makin lama makin tak jelas arahnya. Pertanyaan & jawaban selalu tidak ada hubungannya. Sepertinya bapak ini mungkin (maaf) sedikit kurang waras. Kita pun memilih diam daripada celurit bapak itu ikut-ikutan salah paham, hehe. Nah, tak berapa lama datanglah Yopi beserta Pak Arif. Pak Arif mulai mengeluhkan kakinya yang sepertinya akan mengalami kram. Kita mendekat & Antony mencoba menanyakan kondisinya. Sialnya, kita lupa menceritakan perihal bapak tadi. Terlambat! Di ujung sana Yopi sudah berbincang-bincang seru dengan bapak itu...
Foto ketika Antony & Bapak itu merokok bareng sambil ngobrol.
Yopi juga mengalami hal yang tak jauh beda. Bahkan bapak ini juga meminta rokok ke Yopi sambil menunjuk 1 pack rokok milik Antony yang tergeletak di lantai agar ditinggal saja. Langsung saja Yopi bilang kalau dia bukan perokok sambil perlahan rokok milik Antony diamankan (nice trick!). Akhirnya kita bergegas pergi. Jalan masih menanjak, kira-kira 100 meter Antony tersentak "Sial, kacamataku ketinggalan!". Diapun memutuskan turun lagi sementara yang lainnya tetap melanjutkan perjalanan menuju warung Bu Jujuk.
Akhirnya! Bisa dibayangkan setelah tanjakan sekian panjang, menu Bu Jujuk ini serasa setara dengan menu restoran bintang lima. Bersamaan dengan keluarnya masakan ini, datanglah Antony dengan ciri khasnya nanjak sambil berdiri "Huh, sepertinya kacamataku udah keduluan diambil si Paijo tadi.." katanya terengah-engah. Oalah..(Entah kenapa, kita sepakat menyebut bapak tadi dengan nama Paijo).

Setelah itu kita lanjut hingga tiba di titik tertinggi/ujung tanjakan terakhir rute ini. Tanpa disengaja di sini kita bertemu rombongan yang berangkat dari Gunung Mujur. Suasananya asik & akrab. Rombongan ini membawa perbekalan yang sangat lengkap. Kita membuat kopi & menyantap snack.
Sayangnya kita tidak bisa berlama-lama. Kita berempat terlebih dulu meninggalkan rombongan karena memang sedang diburu waktu. Mungkin hari itu juga bukan harinya Pak Arif. Kram kaki yang masih sering muncul juga diikuti dengan rantai sepedanya yang putus. Setelah bersama-sama kita betulkan, barulah kita bisa lancar melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah. Melintasi turunan setelah menyantap tanjakan berat ternyata tidak bisa seluwes biasanya. Rasanya ibarat setelah fitness angkat beban tiba-tiba disuruh senam..hahah.  Satu lagi yang membuat sebal, data Strava yang kurekam sejak awal perjalanan hilang lenyap begitu saja. Duh!


Related

story 2584808899851554915

Posting Komentar

  1. ceritone apik mas...hahaha, koyok cerpen tenan.

    BalasHapus
  2. Hehe iki dongeng sebelum tidur..

    BalasHapus

emo-but-icon

Follow Us

http://twitter.com/weeklybikers http://facebook.com/weeklybikers http://feeds.feedburner.com/weeklybikers

newest

popular

Comments

VIDEO

@weeklybikers

Connect Us

Counter

item